Logo Bloomberg Technoz

Utang Luar Negeri BI Melonjak, Lampaui Kenaikan Utang Pemerintah

Redaksi
19 August 2026 07:18

Bank Indonesia menanggung utang demi stabilitas rupiah. (Foto: Diolah dari Berbagai Sumber)
Bank Indonesia menanggung utang demi stabilitas rupiah. (Foto: Diolah dari Berbagai Sumber)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Utang Bank Indonesia (BI) melonjak 55,7% pada kuartal II-2026 di tengah depresiasi rupiah sebesar 4,96%. Kenaikan utang BI ini telah bagian dari strategi menjaga stabilitas rupiah melalui pengelolaan moneter dan arus modal asing, setidaknya sejak instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) diluncurkan. 

Stabilitas rupiah memang bukan hal yang dicapai tanpa ongkos. Kala tekanan terhadap nilai tukar meningkat, BI sebagai otoritas moneter perlu memastikan aset rupiah tetap menarik bagi investor asing, agar arus modal tidak berbalik keluar dan menambah tekanan di pasar valuta asing (valas). 

Melansir data Bloomberg, sepanjang kuartal II-2026, pergerakan rupiah dalam periode ini berada di rentang Rp16.980/US$ hingga menyentuh rekor terlemah sepanjang sejarah di Rp18.178/US$ pada 8 Juni 2026. Tak heran jika upaya BI dalam meredam volatilitas rupiah begitu agresif melalui utang. 


Posisi utang luar negeri BI meningkat dari US$27,26 miliar pada Maret, menjadi US$42,46 miliar pada Juni 2026, atau bertambah US$15,2 miliar. Dari porsi tersebut, sebesar US$16,37 berasal dari surat utang. 

Lonjakan ini bahkan jauh lebih besar ketimbang kenaikan utang pemerintah. Pada periode yang sama, utang luar negeri pemerintah 'hanya' meningkat US$1,62 miliar, dari posisi US$214,67 miliar, menjadi US$216,29 miliar. Alhasil, dari total kenaikan utang luar negeri pemerintah yang sebesar US$16,82 miliar, 90,4% berasal dari BI.