"Sebetulnya olahraga dan kulineran itu bisa dijadikan sarana healing atau coping mechanism atau apa pun namanya, jika memang dipilih atas kemauan sendiri," kata Soeprapto kepada Bloomberg Technoz, Kamis (13/8/2026).
Menurut Soeprapto, tekanan kehidupan memang dapat dirasakan oleh berbagai kelompok, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga pekerja muda. Namun, dia menilai tidak tepat jika seluruh keluhan anak muda semata-mata dikaitkan dengan beratnya tekanan pendidikan, pekerjaan, maupun kondisi sosial ekonomi.
Dia justru melihat kemampuan mengatur waktu dan menentukan prioritas menjadi persoalan yang perlu diperhatikan. Menurutnya, anak muda yang merasa terbebani oleh berbagai aktivitas bisa jadi tidak mampu membagi waktu atau memilih kegiatan yang sesuai dengan kompetensinya.
"Andaikata ada yang merasa terbebani oleh berbagai hal di atas, maka penyebabnya adalah karena kaum muda tersebut tidak mampu membagi waktu, dan tidak mampu dan tidak mau memilih aktivitas yang sesuai dengan kompetensinya," ujarnya.
Soeprapto mengatakan kondisi tersebut juga tidak terlepas dari pengaruh komunitas. Menurutnya, semakin banyak anak muda yang mengikuti aktivitas tertentu karena terbawa arus lingkungan, bukan karena benar-benar membutuhkan atau menginginkannya.
Dia mencontohkan aktivitas nge-gym maupun kulineran di kafe. Menurutnya, olahraga bisa dilakukan karena seseorang ingin menjaga kesehatan. Namun, kegiatan tersebut dapat berubah menjadi tuntutan sosial ketika dilakukan untuk menunjukkan identitas diri kepada komunitas atau mendapatkan pengakuan di media sosial.
"Banyak anggota masyarakat, meskipun tidak semuanya, yang melakukan aktivitas nge-gym atau kulineran di cafe tertentu karena butuh sehat atau butuh jajan, tetapi karena ingin menunjukkan identitas diri di komunitasnya," katanya.
Kondisi tersebut, lanjut dia, pada akhirnya dapat memengaruhi kondisi fisik dan psikis. Seseorang bisa merasa lebih mudah lelah karena aktivitas yang dilakukan tidak selalu sesuai dengan keinginannya, kebutuhannya, maupun kemampuannya.
Menurut Soeprapto, tidak ada perbedaan yang terlalu mencolok antara tekanan yang dihadapi pelajar, mahasiswa, dan pekerja muda selama masing-masing mampu menyusun tujuan dan menjalankan aktivitas berdasarkan kemampuan.
"Sebetulnya tidak ada perbedaan menyolok antara pelajar, mahasiswa, dan pekerja muda, sepanjang apa yang mereka lakukan itu sesuai dengan visi, misi, dan tujuan yang didukung oleh perencanaan yang matang dan penetapan tujuan yang jelas, sesuai kemampuannya," ujarnya.
Di sisi lain, Soeprapto mempertanyakan penggunaan istilah "anak muda jompo" sebagai gambaran kondisi generasi muda saat ini. Menurut dia, fenomena tersebut belum cukup untuk disebut sebagai kondisi objektif apabila belum didukung pembuktian ilmiah dan medis dari lembaga atau badan riset yang kompeten.
"Isu tentang fenomena 'anak muda jompo' yang dinyatakan mudah lelah, pegal, dan keluhan akibat terlalu lama duduk dan kurang bergerak, sebetulnya merupakan isu yang belum dibuktikan secara ilmiah dan medis," tuturnya.
Dia menilai munculnya berbagai istilah seperti kesehatan mental, burnout, hingga "anak muda jompo" juga perlu dilihat dari perspektif konstruksi sosial. Menurutnya, masyarakat dapat membentuk persepsi tertentu terhadap sebuah kelompok melalui pelabelan yang dilakukan secara terus-menerus.
Dalam sosiologi, kata dia, terdapat Labeling Theory, yakni teori yang menjelaskan bahwa seseorang atau sekelompok orang yang terus-menerus diberikan label tertentu dapat berperilaku sesuai dengan label tersebut.
"Munculnya isu kesehatan mental, burnout, dan 'anak muda jompo' menurut saya sedang terjadi pembentukan konstruksi sosial yang melemahkan karakter kaum muda, bahwa seolah-olah kaum muda sekarang itu jompo," kata Soeprapto.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu disikapi secara proporsional. Anak muda tetap perlu memiliki ruang untuk beristirahat, berolahraga, bersosialisasi, maupun melakukan aktivitas yang disukai. Namun, aktivitas tersebut sebaiknya dipilih berdasarkan kebutuhan dan kemampuan, bukan semata-mata mengikuti tekanan lingkungan.
Dengan demikian, olahraga tidak harus dipandang sebagai bentuk pelarian dari tekanan kehidupan. Aktivitas fisik dapat menjadi cara yang sehat untuk mengelola tekanan apabila dilakukan secara sadar dan sesuai kapasitas individu.
"Sebetulnya olahraga dan kulineran itu bisa dijadikan sarana healing atau coping mechanism atau apa pun namanya, jika memang dipilih atas kemauan sendiri," ujarnya.
(dec)




























