Imbal hasil obligasi dua tahun yang sensitif terhadap kebijakan suku bunga turun 6 basis poin menjadi 4,14%. Pasar uang kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September kurang dari 40%.
Harga emas mempertahankan penurunannya dari sesi sebelumnya dan diperdagangkan di sekitar US$4.355 per troy ounce, sementara dolar AS sedikit melemah terhadap sebagian besar mata uang negara-negara Group of Ten (G10).
Sementara itu, harga minyak mentah AS bertahan di sekitar US$81 per barel pada awal perdagangan Jumat setelah turun 2,4% pada sesi sebelumnya.
Brent, yang menjadi acuan harga minyak global, mencatat penurunan terbesar dalam lebih dari sepekan sekaligus mengakhiri reli selama enam hari berturut-turut.
Dua laporan inflasi yang berturut-turut menunjukkan kondisi yang relatif jinak, ditambah laporan ketenagakerjaan pekan lalu yang lebih lemah dari perkiraan serta penurunan harga minyak, telah mengurangi tekanan terhadap The Fed untuk memperketat kebijakan pada pertemuan bulan depan.
Meskipun belum adanya kesepakatan di Timur Tengah tetap menjadi kekhawatiran, para trader saham juga mulai kembali memusatkan perhatian pada perdagangan saham berbasis kecerdasan buatan (AI) setelah aksi jual saham semikonduktor pada Juli.
“Data berikutnya yang kita dapatkan pada September dan periode menjelang pertemuan akan menjadi sangat penting,” kata Stephen Juneau, ekonom BofA Securities.
Pada saat yang sama, “pasar jelas mulai semakin memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga karena data dalam beberapa bulan terakhir lebih dovish.”
Inflasi grosir AS melambat lebih besar dari perkiraan pada Juli. Producer Price Index (PPI) naik 4,7% secara tahunan, turun dari kenaikan tahunan sebesar 5,5% pada Juni, dan tidak berubah dibandingkan bulan sebelumnya.
Meskipun Treasury menguat pada Kamis, AS menjual obligasi pemerintah bertenor 30 tahun dengan imbal hasil tertinggi dalam seperempat abad, yang menunjukkan tingginya premi atau kompensasi yang diminta investor untuk membiayai defisit pemerintah AS.
Imbal hasil obligasi jangka panjang telah melonjak di atas 5% tahun ini karena kenaikan harga energi memicu kekhawatiran bahwa inflasi akan tetap tinggi dan memaksa The Fed mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam waktu yang lebih lama.
Tekanan tersebut semakin diperbesar oleh besarnya penerbitan obligasi Treasury setelah bertahun-tahun mengalami defisit fiskal, serta gelombang penerbitan utang korporasi untuk membiayai ledakan investasi di bidang kecerdasan buatan.
Sementara itu, para pejabat The Fed masih terpecah mengenai arah suku bunga.
Presiden Federal Reserve Bank of Richmond Tom Barkin berpendapat bahwa suku bunga sebaiknya dipertahankan pada level saat ini seiring meredanya inflasi.
Sebaliknya, Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack kembali menegaskan preferensinya untuk menaikkan suku bunga.
Data inflasi yang relatif jinak pada Kamis, ditambah laporan ketenagakerjaan pekan lalu yang lebih lemah, mungkin memberikan ruang yang cukup bagi Ketua The Fed Kevin Warsh untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah, menurut Arun Sundaram dari CFRA.
“Namun, keputusan The Fed masih jauh dari final,” katanya. “Investor masih harus mencerna beberapa kemungkinan perkembangan yang dapat mengubah situasi.”
Di Asia, yen masih berada tidak jauh dari level penting terhadap dolar AS, bahkan setelah pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi dikabarkan mendukung kenaikan suku bunga.
Mata uang Jepang tersebut relatif tidak berubah pada awal perdagangan Jumat dan diperdagangkan di sekitar ¥159,50 per dolar.
Bank of Japan (BOJ) kemungkinan menaikkan suku bunga pada September atau Oktober, menurut sejumlah orang yang mengetahui persoalan tersebut.
Kekhawatiran di kalangan bank sentral Jepang bahwa pelemahan yen akan mendorong inflasi semakin bertemu dengan keinginan pemerintah untuk memperkuat dampak intervensi nilai tukar AS-Jepang yang baru-baru ini dilakukan.
Hal tersebut memperkuat alasan untuk melakukan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat, menurut sumber-sumber tersebut.
(bbn)





























