Wahyu memandang gangguan operasional di smelter PT Smelting bakal secara langsung menghentikan proses konversi konsentrat tembaga menjadi katoda tembaga atau refined copper.
Dia memprediksi kondisi tersebut bakal mengakibatkan penundaan pengiriman ke pembeli internasional, tetapi Wahyu belum dapat memproyeksi volume ekspor katoda tembaga yang berpotensi tertunda pengirimannya.
“Secara keseluruhan, insiden teknis di PT Smelting menjadi pemicu katalis positif bagi kenaikan harga tembaga LME, mengonfirmasi bahwa pasar tembaga global saat ini sangat sensitif terhadap gangguan pasokan sekecil apa pun,” terang Wahyu.
Dengan demikian, dia meyakini potensi kelangkaan katoda tembaga bakal mendorong harga pengiriman jangka pendek ke tingkat premi yang cukup tinggi.
Sekadar catatan, pasar tembaga semakin mengetat dengan cepat; lonjakan pengiriman ke Amerika Serikat (AS) dan peningkatan pesanan di China menjadi pemicu kenaikan harga yang berpotensi membawa harga acuan global ke rekor tertinggi sepanjang masa.
Fenomena ini telah berlangsung sejak tahun lalu, tetapi kini melaju dengan kecepatan tertinggi dalam setidaknya 12 tahun terakhir, seiring para pedagang menanti keputusan Gedung Putih mengenai apakah akan memperluas tarif atas produk tembaga setengah jadi hingga ke logam mentah.
Hampir setiap hari selama dua pekan terakhir, pasokan tembaga dalam jumlah antara 4.000 hingga 6.000 ton telah dikeluarkan dari jaringan gudang London Metal Exchange (LME).
Hal ini mempercepat penurunan bertahap yang telah memangkas lebih dari 40% cadangan tembaga—penopang kontrak tembaga paling likuid di dunia—sejak Mei.
Adapun, Freeport-McMoRan Inc. (FCX) mengonfirmasi smelter PTFI di Manyar, Gresik, Jawa Timur yang dioperatori PT Smelting mengalami kendala dan harus dihentikan sementara operasionalnya pada 8 Agustus 2026.
Vice President Communications FCX Linda Hayes menyatakan, berdasarkan penilaian awal, perbaikan smelter pertama PTFI tersebut ditargetkan dapat selesai pada kuartal III-2026.
“PT Freeport Indonesia mendapat pemberitahuan dari operator PT Smelting bahwa smelter yang dimiliki oleh PT Smelting dihentikan sementara pada 8 Agustus 2026 untuk melakukan perbaikan tungku. Penilaian awal menunjukkan bahwa perbaikan tersebut dapat diselesaikan pada kuartal III-2026,” kata Hayes saat dimintai konfirmasi melalui pos-el, Rabu (12/8/2026).
Dengan kondisi tersebut, Hayes menyatakan PTFI bakal menyesuaikan jadwal pengiriman dan melakukan persiapan untuk mempercepat pengoperasian smelter kedua perseroan yang sebelumnya berhenti beroperasi gegara kekurangan pasokan bijih.
Hayes menjelaskan target operasional smelter di kawasan industri Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Manyar, Gresik bakal dimajukan menjadi akhir Agustus 2026, dari sebelumnya ditargetkan beroperasi pada September 2026.
Lebih lanjut, Hayes memastikan tidak terdapat dampak yang terjadi terhadap produksi tambang dari blok Grasberg yang memasok kedua smelter tersebut.
Ihwal potensi dampak operasional gegara diperbaikinya smelter PT Smelting, Hayes menegaskan PTFI masih mengevaluasi potensi dampaknya terhadap waktu realisasi target penjualan yang telah disampaikan sebelumnya.
“PTFI sedang menilai potensi dampak waktu terhadap panduan penjualan yang sebelumnya telah dilaporkan. Dampak apa pun diperkirakan bersifat terkait waktu,” ungkap Hayes.
Untuk diketahui, smelter pertama milik Freeport yakni PT Smelting ini dibangun pada 1996. Fasilitas tersebut dimiliki sebesar 66% oleh PTFI dan 34% oleh operator Mitsubishi Materials Corporation. PT Smelting terletak di Gresik, Jawa Timur dan menjadi smelter tembaga pertama di Tanah Air.
Smelter pertama milik Freeport tersebut mampu mengolah 1.30.000 ton konsentrat tembaga menjadi 342.000 ton katoda tembaga setiap tahunnya untuk memenuhi kebutuhan produksi di dalam maupun luar negeri.
Pada tahun ini Freeport menargetkan volume produksi emas sebanyak 700.000 atau setara sekitar 21 ton. Sementara itu, produksi tembaga tahun ini ditargetkan mencapai sekitar 800 juta pon.
Adapun, tembaga diperdagangkan senilai US$14.132/ton di LME pada hari ini, besaran tersebut tercatat turun tipis 0,17% dibandingkan dengan perdagangan hari sebelumnya.
(azr/wdh)





























