Logo Bloomberg Technoz

Imbas Smelter Freeport, Harga Tembaga Bisa Dekati US$15.000/Ton

Azura Yumna Ramadani Purnama
13 August 2026 15:40

Batangan tembaga seberat satu kilogram di pasar logam grosir di Mumbai, India./Bloomberg-Dhiraj Singh
Batangan tembaga seberat satu kilogram di pasar logam grosir di Mumbai, India./Bloomberg-Dhiraj Singh

Bloomberg Technoz, Jakarta – Analis komoditas memprediksi harga tembaga dunia bakal berpotensi menguat menembus rekor lamanya di US$14.531/ton, usai smelter pertama PT Freeport Indonesia (PTFI) berhenti operasional sementara hingga kuartal III-2026 dan produksi smelter kedua belum sepenuhnya pulih.

Analis komoditas dan Founder Traderindo Wahyu Laksono menyatakan kondisi yang terjadi di Freeport memberikan fondasi fundamental untuk penguatan harga tembaga lebih lanjut, dengan proyeksi harga dunia bergerak menguji level psikologis baru di rentang US$14.800—US$15.000 per ton.

“Harga tembaga telah bertengger di kisaran US$14.182/ton, mendekati rekor tertinggi 52 minggu di level US$14.531/ton. Insiden di smelter Freeport ini memberikan fondasi fundamental yang kuat untuk penguatan,” kata Wahyu ketika dihubungi, Kamis (13/8/2026).


Lebih lanjut, Wahyu juga mewaspadai proses perbaikan smelter tembaga PT Smelting atau ramp up smelter Manyar mengalami kendala tambahan. Jika kondisi ini terjadi, harga tembaga dunia berpotensi terdorong melampaui US$15.000—US$16.000 per ton sebelum akhir 2026.

Tembaga Melonjak US$14.000 per Ton Menuju Rekor Penutupan. (Bloomberg)

Wahyu menjelaskan pasokan fisk tembaga di pasar global sedang terbatas yang dipicu tingginya permintaan untuk transisi energi, kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), serta pusat data kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), sementara pasokan dari sejumlah negara terus mengalami gangguan.