Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Finis di Rp17.875/US$

Tim Riset Bloomberg Technoz
12 August 2026 16:31

Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah melemah 0,2% dan menutup perdagangan Rabu (12/8/2026) di posisi Rp17.875/US$. Pelemahan rupiah sejalan dengan mata uang Asia lainnya yang terpangkas oleh kenaikan harga minyak mentah ke US$89/barel.

Tingginya harga minyak memicu kekhawatiran inflasi bagi negara-negara pengimpor minyak di Benua Kuning. Mata uang negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia, India, Filipina, dan Thailand masih rentan terhadap kenaikan minyak.

Pergerakan mata uang Asia (Bloomberg)

Tekanan ini membuat ruang penguatan rupiah jadi lebih terbatas, meskipun sentimen domestik sebenarnya mulai membaik. Pasar obligasi menunjukkan investor belum melakukan aksi jual secara masif. Bahkan yield sejumlah tenor panjang di pasar obligasi masih tercatat turun, dan aliran dana asing disebut berpotensi kembali masuk ke pasar domestik. 


Setidaknya, sentimen positif pekan ini terkait pencalonan Destry Damayanti sebagai gubernur baru Bank Indonesia (BI) juga memberi kepastian terhadap arah kebijkan moneter, dan mulai meredakan kekhawatiran investor terhadap stabilitas rupiah. 

Di sisi eksternal, pasar kini juga mencermati data inflasi AS yang jadi penentu bagi arah dolar AS dan ekspektasi suku bunga The Fed. Inflasi AS diperkirakan melandai jadi 3,4% secara tahunan, sementara inflasi inti diproyeksikan turun jadi 2,5%.