Logo Bloomberg Technoz

Kenaikan harga minyak sepertinya mulai diterjemahkan pelaku pasar sebagai risiko yang lebih luas dengan menaikkan premi untuk memegang aset domestik. 

Di sisi lain, Citi memperkirakan adanya perubahan ekspektasi terhadap kebijakan Bank Indonesia (BI). Citi melihat ruang bagi BI untuk bersikap semakin dovish setelah berganti nakhoda, termasuk adanya penurunan suku bunga SRBI setidaknya 25 bps dalam jangka pendek. 

Menurut Citi, sinyal itu terlihat pada lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada Jumat (7/8/2026) yang menurunkan yield SRBI sebesar 5 bps. Citi memproyeksikan ruang pelonggaran mulai terbuka terutama jika yield US Treasury juga tetap rendah dan arus dana asing ke pasar obligasi menguat. 

Namun, kenaikan harga minyak yang hari ini kembali melonjak hingga US$90/barel malah menghadirkan komplikasi. Tak terelakkan, tekanan terhadap rupiah kembali terjadi, bahkan secara luas berdampak pada mata uang kawasan. 

Meski rupiah sempat tertopang oleh sentimen kepastian pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI, tapi ketika risiko global kembali meningkat, sentimen ini tak serta-merta mampu menahan tekanan eksternal. 

Bagi rupiah, sentimen eskternal terkait harga minyak dapat memicu volatilitas lantaran tingginya ketergantungan domestik pada impor minyak. 

Ketika harga bensin dan diesel di pasar internasional tetap tinggi, nilai impor migas otomatis meningkat, sekalipun volume impornya tidak berubah secara signifikan.

Hal ini mulai tercermin dalam data perdagangan semester pertama 2026 (Januari-Juni).

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa defisit neraca migas melebar hingga mencapai US$15,77 miliar, menggerus hampir seluruh surplus non-migas sebesar US$19,35 miliar. Akhirnya membuat surplus perdagangan nasional menyusut menjadi hanya US$3,58 miliar.

Pada saat yang sama, kebutuhan dolar justru meningkat karena nilai impor, terutama minyak dan gas, semakin besar. Kombinasi kedua faktor tersebut menyebabkan rupiah menjadi lebih rapuh. 

Akibatnya, rupiah berpotensi semakin sensitif terhadap setiap perubahan sentimen global, baik berupa penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi AS, maupun keluarnya dana asing dari pasar keuangan domestik.

Arah rupiah diperkirakan masih akan sangat bergantung pada seberapa kuat sentimen domestik setelah kepastian kepemimpinan BI, dan seberapa lama risiko geopolitik mampu membuat harga minyak bertahan tinggi. 

(dsp)

No more pages