Logo Bloomberg Technoz

Gerak Rupiah Dibayangi Harga Minyak yang Kembali Tembus US$100

Tim Riset Bloomberg Technoz
24 September 2026 08:20

Pengunjung menukarkan mata uang dolar AS dan rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026) (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pengunjung menukarkan mata uang dolar AS dan rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026) (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Penguatan rupiah di pasar spot yang terjadi kemarin kemungkinan kembali tertahan. Harga minyak Brent yang naik 3,86% ke US$103,08/barel menjadi salah satu faktor pemberat. 

Kenaikan harga minyak dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Teheran tidak akan merespons ancaman dan menetapkan sejumlah persyaratan sebelum pembicaraan yang substantif dapat dilanjutkan, menunjukkan masih lebarnya kesenjangan antara kedua pihak. 

"Optimisme terhadap solusi diplomatik yang cepat untuk perang dan gangguan energi yang ditimbulkan tampaknya telah mereda secara signifikan," kata Walt Chancellor, ahli strategi energi di Macquarie Group, seperti dikutip Bloomberg News


Dari Asia, sebagian mata uang melemah dan hanya sedikit yang menguat secara sangat terbatas. Won Korea Selatan tergerus 0,55%, disusul ringgit Malaysia, dolar Singapura, dan yuan offshore dengan pelemahan terbatas. Sebaliknya, yen Jepang menguat terbatas bersama dolar Hong Kong. 

Sementara itu, di pasar Non-Deliverable Forward (NDF), rupiah masih defensif dengan penguatan yang relatif terbatas 0,05% di posisi Rp17.886/US$.

Pergerakan mata uang Asia. (Bloomberg)