Penurunannya memang relatif terbatas, yakni US$300 juta, juga lebih kecil dari penambahan devisa yang terjadi pada Juni yang sebesar US$700 juta. Namun, jika angka devisa dibaca bersama neraca moneter BI, bahwa tekanan eksternal juga terlihat masih kuat.
Hal tersebut tercermin dari posisi Net Foreign Assets (NFA) BI yang pada Juli masih berada di Rp1.873,1 triliun, jauh di bawah posisi Januari yang sebesar Rp2.172,8 triliun. Artinya, meski cadangan devisa hanya turun tipis pada Juli, tapi posisi aset luar negeri bersih masih berada sekitar Rp299,7 triliun, atau hampir 14% di bawah level awal tahun.
Memang, devisa lebih menggambarkan aset yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan eksternal, termasuk pembayaran utang luar negeri, atau intervensi stabilisasi rupiah. Sedangkan NFA punya posisi lebih luas karena mencakup tagihan BI kepada non-residen, dan dikurangi kewajiban BI kepada non-residen.
Melansir data BI, klaim atau tagihan kepada non-residen tercatat naik jadi Rp3.012,2 triliun, dari Januari yang berada di Rp2.825,3 triliun. Akan tetapi, di saat yang sama, kewajiban terhadap non-residen justru melonjak jauh lebih besar, menjadi Rp1.139,1 triliun.
Hal ini mengindikasikan bahwa kewajiban luar negeri tumbuh jauh lebih cepat daripada tagihan luar negeri. Tagihan kepada non-residen bertambah sekitar Rp186,9 triliun atau 6,6% dari Januari hingga Juli. Sebaliknya, kewajiban kepada non-residen meningkat sekitar Rp486,5 triliun atau hampir 75%.
Sehingga, kabar bahwa cadangan devisa hanya menyusut US$300 juta pada Juli, tidak serta merta menghilangkan tekanan eksternal. Sebab, pada saat yang sama neraca eksternal BI masih menggambarkan adanya perubahan besar pada struktur aset dan kewajibannya.
Kepemilikan SRBI
Membesarnya kewajiban BI terhadap non-residen tergambar juga pada bertambahnya kepemilikan asing pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), meski instrumen moneter ini bukan menjadi satu-satunya penyebab kenaikan kewajiban BI terhadap non-residen.
Mengutip data BI, kepemilikan non-residen pada SRBI tercatat naik dari Rp121,9 triliun pada Januari, menjadi Rp287,06 triliun pada Juli, bertambah sekitar Rp165,16 triliun. Begitu juga dengan pangsa non-residen terhadap total SRBI yang ikut naik dari 16,2% menjadi 27,1%.
Di sisi lain, kepemilikan bank relatif stagnan, hanya naik Rp6,78 triliun atau 1,1%. Artinya ekspansi kepemilikan SRBI tidak berasal dari bank, melainkan semakin banyak ditopang oleh sektor non-bank, terutama investor non-residen.
Sejalan dengan itu, Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI Destry Damayanti sempat menegaskan bahwa sebenarnya penerbitan instrumen SRBI bertujuan untuk mendukung perbankan dalam mengelola likuiditas, bukan untuk membantu mereka memupuk investasi setinggi-tingginya.
"Kami kan inginnya SRBI itu sebenarnya adalah untuk liquidity management. Jadi bukan untuk memupuk investasi, dan untuk SBN lebih terkendali," ujar Destry dalam konferensi pers hasil rapat koordinasi Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), dikutip Selasa (4/8/2026).
Bukan tanpa sebab SRBI digemari oleh investor. Yield yang tercatat lebih tinggi daripada Surat Utang Negara (SUN) pada tenor sama, menjadikan SRBI instrumen yang menarik.
Dalam lelang terbaru SRBI pada Jumat (7/8/2026), SRBI diserbu investor dengan lonjakan permintaan mencapai Rp45,12 triliun, lebih dari dua kali lipat dibanding lelang sebelumnya, di Rp17,51 triliun.Yield tenor 6 bulan turun menjadi 7,18% dari 7,2%, lalu tenor 9 bulan turun menjadi 7,40% dari 7,42%, dan tenor 12 bulan turun paling tajam jadi 7,59% dari 7,63%.
Meski turun, sejatinya yield SRBI masih tetap lebih mahal daripada yield yang ditawarkan oleh Surat Utang Negara (SUN) pada tenor yang sama, 1 tahun, berada di 7,02%. Itu sebabnya, instrumen ini masih lebih menarik bagi investor.
--- dengan asistensi Mis Fransiska Dewi
(dsp)






























