Sepertinya, pelaku pasar cenderung merotasi sebagian portofolionya dengan mengalihkan sebagian alokasinya ke tenor lebih pendek seperti 1 tahun yang yield-nya tercatat turun 2 bps.
Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist, Mega Capital Sekuritas memperkirakan yield SUN tenor 10 tahun bergerak di rentang 7,3% hingga 7,35%.
Struktur kurva yield juga terlihat semakin datar. Yield tenor 1 tahun dan tenor 30 tahun punya selisih 30 basis poin. Dengan kurva ini, pasar sepertinya mulai memperkirakan bahwa tekanan inflasi dalam relatif terkendali, serta ekspektasi kenaikan suku bungan Bank Indonesia (BI) mulai turun, berhubung BI telah melakukan siklus pengetatan sejak Mei lalu.
Selain itu, pelaku pasar juga memperkirakan ekonomi Indonesia relatif tangguh walaupun tidak mengalami akselerasi yang cukup tinggi, dengan tercapainya realisasi di 5,25%, yang lebih tinggi dari proyeksi para ekonom dan analis di 5,1%.
Sejalan dengan itu, rupiah siang ini berbalik menguat ke Rp17.910/US$, setelah sempat dibuka melemah di Rp17.937/US$ pada sesi perdagangan pagi.
Penguatan rupiah sepertinya didorong oleh sentimen pasar yang menilai cadangan devisa tak tergerus terlalu dalam sepanjang bulan Juli.
Di sisi lain, rupiah juga tertopang oleh langkah BI yang hari ini kembali melakukan intervensi di pasar dengan menggelar lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan mengantongi Rp5 triliun.
(dsp)






























