Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Ikut Tertekan di Asia, Harga Minyak Jadi Beban

Tim Riset Bloomberg Technoz
07 August 2026 09:20

Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah membuka perdagangan dengan pelemahan 0,11% ke posisi Rp17.937/US$, bersama sebagian mata uang Asia lainnya. 

Pelemahan rupiah dipicu oleh sejumlah sentimen. Dari sisi domestik, pasar tengah memproses atas rilisnya data-data ekonomi domestik, dan berekspektasi pengaruh data ekonomi itu terhadap posisi cadangan devisa Indonesia, khususnya data capaian ekspor.

Di saat yang sama, pasar juga tengah menanti nama calon Gubernur Bank Indonesia (BI) yang dikabarkan akan segera diputuskan oleh Presiden Prabowo Subianto. 


Dari sisi eksternal, datang dari ketidakpastian prospek dan arah kesepakatan di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat mengatakan pada Rabu malam bahwa kesepakatan terkait Selat Hormuz sudah dekat dan pemerintahannya terus berkomunikasi dengan Iran.

"Kami sedang berbicara. Kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi," ujar Trump dalam sebuah kampanye di Las Vegas, seperti dikutip Bloomberg News.