Logo Bloomberg Technoz

Tensi Geopolitik Kembali Panas, Rupiah Berpotensi Tertekan

Tim Riset Bloomberg Technoz
07 August 2026 08:12

Mata uang rupiah dengan latar dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Mata uang rupiah dengan latar dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pergerakan rupiah di pasar spot diperkirakan kembali melemah pada perdagangan hari ini (7/8/2026), setelah dua hari beruntun menutup pasar dengan penguatan. 

Sinyal pelemahan juga terlihat dari pergerakan rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) yang kembali melemah 0,12% ke Rp17.980/US$. 

Pemicunya adalah tensi geopolitik kembali memanas lantaran belum ada kejelasan mengenai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Kondisi ini membuat harga minyak Brent kembali naik 3,83% ke US$82,49/barel kemarin, dan pagi ini terkerek lagi 1,04% ke US$83,35/barel.


Mata uang Asia juga merespons dengan negatif. Di pasar yang sudah buka, semua mata uang bergerak di zona merah. Ringgit Malaysia terdepresiasi 0,12%, won Korea Selatan 0,1%, yen Jepang 0,06%, dan dolar Singapura 0,02%. 

Mata uang Asia. (Bloomberg)

Dari dalam negeri, perhatian investor akan tertuju pada data cadangan devisa yang hari ini akan dirilis Bank Indonesia (BI). Jika posisi cadangan devisa kembali menyusut, pasar menilai bahwa BI melakukan intervensi yang cukup masif demi menjaga rupiah, dan berpotensi merespons negatif aset-aset berdenominasi rupiah.