Namun, Trump sebelumnya juga beberapa kali mengklaim adanya terobosan diplomatik yang pada akhirnya tidak menghasilkan kesepakatan permanen. Pernyataan ini membuat harga minyak kembali terkerek menjadi US$83/barel, setelah sempat berada di posisi US$79,6/barel kemarin.
Hal ini membawa sebagian mata uang Asia bergerak di zona merah. Peso Filipina pimpin pelemahan dan tergerus 0,35%, disusul baht Thailand, rupiah, dan ringgit Malaysia. Sebaliknya, won Korea Selatan justru menguat paling tajam. Kemudian disusul dolar Taiwan, yuan China, yen Jepang, yang punya penguatan lebih tipis.
Jika melihat secara fundamental, ruang apresiasi rupiah kemungkinan masih dibatasi oleh kondisi sektor eksternal yang belum pulih. Penambahan cadangan devisa juga diperkirakan belum sepenuhnya optimal jika melihat kinerja perdagangan yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) awal pekan ini. BPS melaporkan ekspor hanya tumbuh 4,13%, sementara impor tumbuh 8,82%.
Defisit neraca migas juga tercatat melebar hingga mencapai US$15,77 miliar, menggerus hampir seluruh surplus non-migas sebesar US$19,35 miliar. Akhirnya membuat surplus perdagangan nasional menyusut menjadi hanya US$3,58 miliar.
Tekanan ini berpotensi melanda pasar Surat Utang Negara (SUN), setelah kemarin sempat mengalami aksi beli pada hampir semua tenor. Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas memprediksi yield SUN tenor 10 tahun akan bergerak ke rentang 7,3% hingga 7,35%, seiring bertambahnya tekanan pada rupiah yang diperkirakan terdepresiasi di kisaran Rp17.950-Rp17.980/US$.
(dsp)





























