Rupiah Tertinggal dari Mata Uang Asia, Ada Apa?
Tim Riset Bloomberg Technoz
21 September 2026 15:20

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah menutup perdagangan Senin (21/9/2026) dengan pelemahan 0,54% ke Rp17.838/US$, kala sebagian besar mata uang Asia menguat.
Terpangkasnya harga minyak mentah Brent 2,15% ke US$101,64/barel memberi ruang penguatan bagi mayoritas mata uang kawasan.
Won Korea Selatan memimpin penguatan 0,5%, disusul ringgit Malaysia, dolar Singapura, dolar Taiwan, baht Thailand, rupee India, dan yuan China. Namun sebaliknya, rupiah tertinggal dan melemah paling tajam. Kemudian, yen Jepang menyusul dan terpangkas 0,23%, juga peso Filipina 0,08%, serta dolar Hong Kong yang lebih terbatas 0,01%.
Tertinggalnya rupiah dibanding mata uang Asia lainnya menunjukkan bahwa terpangkasnya harga minyak mentah belum cukup untuk menjadi katalis penguatan rupiah. Terlebih posisi harga ini masih berada di atas kisaran asumsi dasar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 di US$70/barel.
Untuk itu, pasar tampaknya masih mencermati faktor domestik, terutama menjelang keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI), pada Rabu (23/9).

































