Logo Bloomberg Technoz

HPM Baru Dinilai Atasi Isu Krisis Keekonomian Smelter Nikel HPAL

Azura Yumna Ramadani Purnama
17 September 2026 10:10

Endapan hidroksida campuran (MHP) yang tersuspensi dalam air di fasilitas pengolahan nikel yang dioperasikan Harita Nickel di Pulau Obi./Bloomberg
Endapan hidroksida campuran (MHP) yang tersuspensi dalam air di fasilitas pengolahan nikel yang dioperasikan Harita Nickel di Pulau Obi./Bloomberg

Bloomberg Technoz, Jakarta – Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) menilai formulasi penghitungan harga patokan mineral (HPM) bijih nikel yang baru membantu mengatasi tingginya biaya produksi smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL) di Indonesia.

Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah menilai aturan baru tersebut membuat harga bijih limonit yang diserap smelter HPAL menjadi lebih ekonomis, sehingga mengatasi masalah tingginya harga bijih akibat kenaikan HPM sebelumnya di tengah kenaikan harga bahan baku sulfur.

Dia menilai HPM baru tersebut membuat harga patokan bijih montir menjadi lebih dekat dengan nilai transaksi fisik aktual.


“FINI menyambut baik penyesuaian formula HPM bijih nikel dalam regulasi baru ini. Penyesuaian ini secara langsung membantu mengatasi krisis keekonomian yang sedang dialami oleh fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel berbasis HPAL,” kata Arif ketika dihubungi, Kamis (17/9/2026).

Bijih nikel diangkut melalui sabuk konveyor saat dibongkar dari kapal pengangkut curah Sansho./Bloomberg-Carla Gottgens

Arif menilai struktur harga bijih limonit yang lebih rasional dan terjangkau sangat membantu industri HPAL untuk terhindar dari risiko rugi dan defisit arus kas.