Logo Bloomberg Technoz

Sementara itu, CAM yang pada 2024 belum diproduksi di dalam negeri diproyeksikan mencapai sekitar 15% pangsa produksi global pada akhir dekade ini.

Sebaliknya, pertumbuhan produk hilir untuk industri baja nirkarat diperkirakan lebih terbatas. Pangsa produksi baja nirkarat diproyeksikan hanya meningkat dari sekitar 8% pada 2024 menjadi 10% hingga 2030.

Produksi baja nirkarat dunia sebagai penopang permintaan nikel./dok. BMI


“Kalau sebelumnya produk nikel itu hanya didominasi untuk stainless steel, baja, industri sejenisnya; dengan pergeseran teknologi, tahun lalu kita sudah mulai bereaksi itu,” tegas dia.

Dia juga meyakini hal tersebut tecermin dengan harga mobil listrik dengan baterai nickel manganese cobalt (NMC) memiliki harga yang makin dekat dengan mobil listrik dengan baterai berbasis lithium ferro phosphate (LFP).

“Sederhananya, kalau dahulu teman-teman membandingkan antara baterai LFP baterai dengan NMC, harga mobilnya jauh ya, jomplang. Sekarang itu sudah mulai mepet. Karena apa? Resource management,” ujarnya.

BMI, lengan riset dari Fitch Solutions Company, memperkirakan pertumbuhan permintaan nikel global pada 2026 hanya akan mencapai sekitar 3%, melambat dari pertumbuhan permintaan 2025 yang diprediksi sebesar 5,8%.

BMI mencatat terdapat peningkatan penggunaan baterai kendaraan listrik EV nonnikel seperti LFP, yang memiliki biaya lebih rendah dan umur siklus yang lebih panjang.

Berdasarkan data Badan Energi Internasional (IEA), pada 2024, pangsa pasar LFP di China naik menjadi 75% dari sebelumnya pada 2022 sekitar 62%. Sementara itu, di pasar global, pangsa pasar LFP naik menjadi 50% dari sebelumnya 38%.

Untuk baterai berbasis nikel, pangsa pasar pada 2024 turun menjadi 25% di China dari 34% pada 2022. Di pasar global, pada 2024 tercatat sebesar 46% dari sebelumnya pada 2022 sebesar 54%.

“Pergeseran komposisi ini kemungkinan akan menjaga sentimen pasar tetap lesu dan menahan pertumbuhan permintaan nikel meskipun ada dorongan makroekonomi yang lebih luas,” tulis BMI dalam risetnya medio April.

Pemerintah memang sedang menggenjot pengembangan baterai berbasis nikel atau NMC, salah satunya melalui pemberian insentif berbasis baterai.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengaku tengah membuka peluang adanya pemberian insentif khusus bagi mobil listrik yang menggunakan baterai berbasis nikel atau NMC untuk mendongkrak pasar EV di Indonesia.

“Ke depan akan ke sana. [Insentif baterai NMC menjadi] bagian dari salah satu strateginya,” ujar Bahlil ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Senin (3/8/2026).

Bahlil menjelaskan Indonesia saat ini telah memiliki dua pabrik baterai kendaraan listrik, termasuk pabrik hasil kerja sama dengan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL) yang siap diresmikan dalam waktu dekat.

Menurutnya, dengan kapasitas industri yang mulai terbentuk, pemerintah ingin mendorong permintaan terhadap kendaraan listrik yang menggunakan baterai berbahan baku nikel agar rantai pasok dari hulu hingga hilir dapat berjalan secara berkelanjutan.

Bahlil menambahkan baterai NMC masih memiliki keunggulan dibandingkan dengan teknologi LFP untuk kendaraan listrik yang membutuhkan daya jelajah lebih jauh.

Dengan demikian, pemerintah memandang pengembangan ekosistem baterai berbasis nikel tetap menjadi bagian penting dari arah kebijakan industri kendaraan listrik nasional.

(azr/wdh)

No more pages