“Risiko jangka pendek masih ada, terutama jika data AS tetap kuat, harga minyak terus memicu kekhawatiran inflasi, atau pasar terus memperhitungkan arah suku bunga Federal Reserve yang lebih hawkish,” kata Ulrike Hoffmann-Burchardi dari UBS Chief Investment Office.
Iran akan berupaya melarang kapal-kapal AS dan Israel melintasi Selat Hormuz serta meminta kompensasi dari negara-negara yang dianggapnya bermusuhan sebelum mengizinkan kapal melintas, menurut laporan media lokal mengenai rancangan kesepakatan Iran-Oman untuk mengelola jalur perairan strategis tersebut.
Laporan tersebut muncul ketika pejabat di Washington dan Teheran mengisyaratkan bahwa kesepakatan mungkin segera tercapai. Donald Trump, yang baru-baru ini mundur dari ancaman untuk kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran, mengatakan pada Kamis bahwa negosiasi “berjalan baik” dan dirinya terlibat dalam proses tersebut. Namun, dia menolak mengatakan apakah kesepakatan telah tercapai.
Secara terpisah, kantor berita Fars melaporkan bahwa pasukan angkatan laut Iran telah menyerang “target-target musuh” di pintu masuk Selat Hormuz.
“Wall Street kembali berbalik arah setelah kenaikan tajam baru-baru ini, karena ketidakjelasan mengenai Selat Hormuz membuat investor mempertanyakan apakah reli kuat pada awal pekan memang didukung oleh perbaikan yang dipersepsikan dalam negosiasi geopolitik,” kata José Torres, ekonom senior di Interactive Brokers.
Data ekonomi AS yang dirilis Kamis menyoroti ketahanan pasar tenaga kerja AS, sehingga inflasi menjadi variabel utama yang akan diperhatikan The Fed dalam pertemuan September. Klaim awal tunjangan pengangguran tetap di bawah 200.000 untuk pekan ketiga berturut-turut. Sementara itu, laporan terpisah menunjukkan produktivitas tenaga kerja meningkat lebih cepat dari perkiraan pada kuartal II, ketika perusahaan berupaya mengimbangi kenaikan biaya.
Perhatian kini beralih ke laporan ketenagakerjaan Jumat. Para ekonom yang disurvei Bloomberg memperkirakan perusahaan menambah 80.000 pekerja pada Juli, setelah kenaikan yang lebih lemah dari perkiraan sebesar 57.000 pada Juni. Laporan tersebut diperkirakan memberikan sinyal paling jelas sejauh ini mengenai apakah pasar tenaga kerja mulai cukup mendingin untuk mendukung ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed pada akhir tahun.
“Laporan ketenagakerjaan Jumat menjadi semakin penting bagi pasar mengingat betapa cepatnya pasar saham menguat selama sepekan terakhir. Pada akhirnya, kita membutuhkan angka yang tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin agar pasar dapat terus bergerak naik secara bertahap,” kata Clark Bellin dari Bellwether Wealth.
(bbn)






























