Rupiah Menutup Perdagangan di Rp18.023/US$
Tim Riset Bloomberg Technoz
04 August 2026 15:41

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah menutup sesi perdagangan Selasa (4/8/2026) dengan pelemahan 0,18% ke posisi Rp18.023/US$, memangkas penguatan yang sempat terjadi kemarin.
Pelemahan rupiah sore ini sekurang-kurangnya dipicu oleh tiga hal. Pertama, data perdagangan luar negeri masih defisit. Meski membaik dengan defisit menjadi US$450 juta dari posisi sebelumnya US$1,61 miliar, defisit neraca migas tercatat melebar hingga mencapai US$15,77 miliar, menggerus hampir seluruh surplus non-migas sebesar US$19,35 miliar. Akhirnya membuat surplus perdagangan nasional menyusut menjadi hanya US$3,58 miliar.
Dengan kata lain, kekuatan sektor manufaktur, pertanian, dan komoditas nonmigas nyaris habis digunakan untuk menutup tingginya tagihan impor energi. Ketika surplus perdagangan terus tergerus, pasokan devisa dari ekspor semakin menipis, sementara kebutuhan dolar AS untuk membiayai impor justru terus meningkat. Kombinasi tersebut membuat fundamental nilai tukar rupiah semakin rentan.
Kedua, harga minyak mentah brent kembali naik 1,38% menjadi US$85/barel. Kenaikan harga di tengah kabar bahwa dunia sebenarnya sedang berpotensi mengalami kelangkaan bahan bakar minyak, menimbulkan kekhawatiran bertambah melebarnya defisit neraca migas. Ketiga, indeks dolar Amerika Serikat (AS) bertahan tinggi di 100, dan menyebabkan sebagian besar mata uang Asia juga ikut melemah.
Dari kawasan, peso Filipina memimpin pelemahan disusul yen Jepang, rupiah, juga baht Thailand. Sementara dolar Singapura, dan rupee India bersama dolar Hong Kong relatif lebih terbatas. Sebaliknya, hanya yuan China dan offshore menguat terbatas siang ini. Bahkan, won Korea Selatan yang tadi pagi sempat melesat, hanya menyisakan penguatan 0,01% saja.





























