Logo Bloomberg Technoz

Tekanan eksternal dari luar kawasan juga datang dari adanya sentimen bahwa volatilitas suku bunga yang lebih tinggi akan menjadi normal baru di era kepemimpinan Ketua The Fed baru, Kevin Warsh. 

Tidak adanya panduan kebijakan (forward guidance) dari The Fed, disebut-sebut berisiko menciptakan lingkungan yang secara struktural lebih bergejolak. Ketidakjelasan mengenai bagaimana bank sentral akan merespons ekonomi global yang semakin rentan terhadap inflasi, akan mendorong pasar obligasi kian agresif. 

Pada rapat Juli, pelaku pasar menyoroti persoalan kredibilitas The Fed, yang mempertahankan suku bunga tanpa adanya penjelasan yang memadai, disusul dengan adanya aksi jual obligasi US Treasury tenor panjang dan membuat yield melonjak naik. 

Di Indonesia, tekanan tersebut mulai terlihat pada perdagangan Surat Utang Negara (SUN) hari ini. Meski investor masih memburu obligasi tenor pendek, tapi kenaikan yield pada tenor 5-10 tahun mengindikasikan pasar masih meminta premi risiko yang lebih tinggi. 

Di samping, aksi pelaku pasar ini juga mencerminkan kehati-hatian mereka terhadap prospek pertumbuhan domestik yang diramal melambat jadi 5,1% pada kuartal II-2026, dari 5,61% pada kuartal sebelumnya. 

Dengan adanya berbagai sentimen dan tekanan eksternal ini, pergerakan rupiah diproyeksikan akan kembali tertekan. Permata Institute for Economic Research (PIER) memperkirakan pelemahan rupiah akan mencapai puncaknya pada kuartal III-2026 di rentang Rp18.000 hingga Rp18.150/US$. Sebab, pada kuartal ketiga tahunini, tekanan eksternal dan kerentanan domestik diproyeksikan bertemu dalam satu waktu. 

(dsp)

No more pages