Ramalan perlambatan oleh ekonom dan analis ini bukan tanpa sebab. Pertumbuhan yang kuat pada kuartal pertama tahun ini sebenarnya ditopang oleh belanja pemerintah pada awal tahun, serta mendapat dorongan dari adanya faktor musiman seperti Ramadan dan Idul Fitri.
Namun, masuk kuartal kedua, sebagian faktor musiman itu selesai. Akibatnya, laju pertumbuhan kembali mencerminkan kondisi fundamental ekonomi yang sebenarnya. Konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, masih jadi penyangga utama.
Tapi, sejumlah indikator justru menunjukkan daya dorong konsumsi rumah tangga mulai melemah, salah satunya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia (BI) yang terus menurun dalam beberapa bulan terakhir.
IKK periode Juni turun dan berada di 117,8, lebih rendah dari posisi Mei yang sebesar 120,9. IKK Juni juga menjadi yang terendah sejak September tahun lalu atau sembilan bulan terakhir.
Ekonom Bloomberg Economics Tamara Henderson berpendapat, perlambatan ekonomi Tanah Air pada kuartal kedua ini terjadi lantaran melemahnya investasi dan melandainya belanja pemerintah. Belanja pemerintah diperkirakan tak lagi tumbuh sekuat kuartal pertama yang sempat melonjak 21,8% secara tahunan.
Henderson menyebut, sejumlah indikator aktivitas ekonomi mengindikasikan bahwa belanja modal mulai melemah. “Kepercayan pelaku usaha juga diperkirakan tertekan akibat kebijakan pemerintah yang memusatkan ekspor sejumlah komoditas strategis,” kata Henderson.
Tumbuh 5% Hingga 2028
Sementara berdasarkan Bloomberg Economic Survey edisi Juli 2026, pertumbuhan ekonomi Indonesia diramal tetap berada di kisaran 5% hingga 2028.
Survei Bloomberg itu sempat merevisi tipis rata-rata pertumbuhan 2026 menjadi 5,1%. Dengan perkiraan ekonomi akan melambat pada akhir tahun, sebab pertumbuhan kuartal IV-2026 hanya sekitar 4,58%, sebelum menyentuh 4,5% pada kuartal I-2027.
Perlambatan itu sejalan dengan proyeksi inflasi yang lebih tinggi dari hasil survei sebelumnya. Inflasi rata-rata 2026 kini diperkirakan mencapai 3,4%, mencerminkan tekanan harga yang masih bertahan, baik akibat kenaikan harga energi maupun pelemahan nilai tukar.
Terpisah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan 2026 diperkirakan berada dalam kisaran 5,6-6% yoy.
Dalam paparannya usai Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Purbaya menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga ditopang oleh daya beli masyarat dan juga konsumsi masyarakat, yang didukung pula oleh Anggaran pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang memiliki peran sebagai shock absorber.
Purbaya menyebut belanja, pada akhir kuartal kedua tahun 2026, naik 17,8% yoy menjadi Rp1.655 triliun, yang terdiri dari belanja pemerintah sebesar Rp1.298,6 triliun, naik 29,4%.
(dsp/aji)





























