Logo Bloomberg Technoz

“Jika tebu dialihkan secara masif untuk bioetanol, Indonesia dikhawatirkan akan makin bergantung pada gula impor. Selain itu, masa tanam tebu terbilang lambat karena membutuhkan waktu hingga satu tahun untuk panen,” jelasnya.

Hal serupa juga berlaku untuk komoditas jagung dan singkong. Jagung memiliki peruntukan ketat untuk pangan manusia dan pakan ternak, serta sangat sensitif terhadap cuaca.

Jagung yang ditanam di lahan terlalu kering akan menghasilkan buah kecil, sementara di lahan terlalu basah hanya akan melebatkan daun tanpa membuahkan hasil.

Sementara itu, singkong kini makin krusial sebagai bahan baku pembuat tepung mocaf untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor gandum.

Daya Tahan 

Sebagai jalan keluar, Ali mendorong pemerintah untuk melirik sorgum sebagai bahan baku utama bioetanol E20. Menurutnya, tanaman sorgum memiliki daya tahan tinggi dan dapat tumbuh optimal di lahan-lahan kering atau marjinal yang tidak bisa ditanami komoditas lain.

Wilayah potensial untuk pengembangan sorgum meliputi kawasan selatan Pulau Jawa, Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Maluku, hingga sebagian wilayah barat Sumatra.

Keunggulan lain dari sorgum adalah seluruh bagian pohonnya—mulai dari batang hingga biji—dapat diolah menjadi bahan baku bioetanol.

Dari sisi efisiensi produksi, sorgum hanya membutuhkan waktu 3 bulan untuk berbuah. Setelah dipotong, batang sorgum dapat tumbuh kembali (ratoon) tanpa perlu membongkar akar dan menanam ulang, sehingga petani dapat memanennya hingga 3 kali dalam setahun dari sekali tanam.

"Sorgum itu ditanam di mana saja hidup, apalagi di lahan-lahan kering. Bedanya dengan sawit yang butuh 5 tahun baru berbuah, sorgum cukup 3 bulan. Sekali tanam, dipotong jangan sampai dihilangkan akarnya, dia tumbuh lagi. Idealnya bisa sampai 3 kali panen dalam setahun," terangnya.

Agar target E20 pada 2028 dapat tercapai secara realistis, CESS merekomendasikan pemerintah untuk segera memetakan perencanaan nasional bioetanol berbasis sorgum.

Hal ini bisa dilakukan dengan mulai membangun pusat-pusat perkebunan sorgum terpadu yang terintegrasi langsung dengan fasilitas pemrosesan bioetanol.

Pengelolaannya dapat menggandeng koperasi desa, Koperasi Merah Putih, maupun Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) setempat.

"Saya sarankan kepada pemerintah lebih baik direncanakan secara baik E20 ini. Dibangunlah pusat-pusat perkebunan sorgum yang bekerja sama dengan koperasi desa atau perusahaan daerah, terutama di lokasi yang dekat dengan fasilitas pemrosesan bioetanol. Ini jauh lebih realistis," pungkas Ali.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan penerapan E20 dapat berjalan secara penuh paling cepat pada 2028 atau setidaknya pada rentang 2028—2029.

Dalam kaitan itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan kebijakan ini dirancang untuk menekan angka impor BBM jenis bensin, sekaligus menghemat devisa negara.

“Teman-teman, pemerintah tadi juga dalam rapat dengan Bapak Presiden [Prabowo], memang proposal untuk etanol mandatori ini sudah kita lakukan sejak 2025 dan kajian kita sudah hampir selesai. E20 itu dalam perencanaan akan ditetapkan nanti sampai dengan 2028—2029,” ungkap Bahlil usai menghadiri agenda Taklimat Presiden Prabowo Subianto kepada jajaran Kabinet Merah Putih dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin (20/7/2026).

Meski begitu Bahlil menegaskan, pemerintah tidak ingin terburu-buru memberlakukan kebijakan E20 jika pasokan etanolnya masih bergantung pada komoditas impor.

Walhasil, dalam rentang 1—2 tahun ke depan, Kementerian ESDM akan fokus menyiapkan ekosistem industri hulu dan bahan bakunya di dalam negeri.

"Kita tidak ingin begitu kita terapkan E20, etanolnya justru kita impor. Maka sekarang kita mempersiapkan industrinya dahulu," ujar Bahlil.

Adapun komoditas utama yang diproyeksikan menjadi bahan baku pembuatan bioetanol di Indonesia meliputi singkong, tebu, dan jagung.

Dalam pelaksanaannya, Bahlil mengatakan tidak langsung menerapkan campuran E20, melainkan secara bertahap dimulai dari E10 pada 2027.

"Bertahap, bertahap. Mungkin kita akan bertahap di E10 dahulu ya. E10 mungkin 2027 dan langsung ke E20. Jadi golnya itu mungkin setelah perencanaannya selesai," kata Bahlil.

Adapun untuk mendukung proyek ini, Presiden Prabowo Subianto telah berencana membangun sedikitnya 30 pabrik etanol nasional, bahkan hingga 50 pabrik, sebagai upaya mengejar mandatori ini.

Prabowo mengatakan Indonesia saat ini telah mampu melakukan penerapan pencampuran bensin dengan etanol 10% atau E10.

Namun, berdasarkan paparan yang diterimanya, Indonesia dinilai mampu langsung menargetkan implementasi E20.

"Dan hari ini saya dipaparkan, dikasih lihat tadi—saya minta maaf tadi saya lama melihat pameran—itu ada tadi sudah mulai kita mampu menuju E10, etanol 10. Jadi nanti bensin bisa dicampur dengan 10% etanol,” kata Prabowo dalam acara panen raya serentak di 43 titik di Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026).

"Tapi tadi para petugas mengatakan kita bisa sampai E20. Butuh pabrik, tadi pabriknya yang baru kita miliki baru satu pabrik. Tadi saya putuskan kita akan bangun minimal 30 pabrik etanol, kalau perlu sampai 50 pabrik," tambah Prabowo.

Bahkan RI-1 turut membandingkan perkembangan pemanfaatan bioetanol Indonesia dengan sejumlah negara lain.

Dia menyebut India telah menerapkan E20, sementara Brasil bahkan telah menggunakan E100 atau bahan bakar berbasis etanol murni.

(wdh)

No more pages