Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Offshore Tertekan, Ketidakpastian BI Bayangi Pasar Spot

Tim Riset Bloomberg Technoz
28 July 2026 08:20

Karyawan menghitung mata uang rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung mata uang rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pergerakan rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) cukup volatil dengan bias pelemahan yang tinggi. Pada perdagangan Selasa (28/7/2026) pagi 07.01 WIB, mulanya rupiah tak banyak berubah dari posisi tadi malam yang melemah 0,81% ke Rp18.109/US$. Kemudian pada 07.50 WIB, rupiah menguat sangat terbatas 0,06% ke Rp18.098/US$. Tak lama berselang, rupiah kembali melemah 0,05% ke Rp18.118/US$ pada 08.18 WIB. 

Dari kawasan Asia, sebagian mata uang melemah di pasar yang sudah buka. Won Korea Selatan melemah paling dalam 0,21%, disusul ringgit Malaysia 0,11% dan dolar Singapura 0,04%. Sementara, tak ada mata uang yang menguat pada sesi 07.13 WIB. 

Mata uang Asia pada Selasa (28/7/2026). (Bloomberg)

Tekanan di pasar valuta asing datang dari ketidakpastian atas konflik Timur Tengah. Memang, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa AS dan Iran tengah terlibat dalam pembicaraan diplomatik untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Namun, ia memperingatkan bahwa kedua belah pihak akan kembali bertempur jika proses negosiasi gagal mencapai kesepakatan. 


Pernyataan ini membuat tekanan eksternal yang datang dari pergerakan indeks dolar Amerika Serikat (AS) dan harga minyak dunia pagi ini tidak terlalu tinggi. Harga minyak Brent tercatat kembali landai dengan pemangkasan 0,57% menjadi US$87,86 per barel. Sementara, indeks dolar AS relatif stabil di posisi 101,53. 

Bagi sebagian mata uang Asia yang melemah pagi ini, tekanan domestik menjadi pemicu. Misalnya, won Korea Selatan yang melemah lantaran tertekan oleh arus modal keluar di pasar saham kemarin, sebesar US$200,4 juta. Padahal, di saat yang sama yield obligasi pemerintah Korea Selatan tenor 3 tahun turun 8 basis poin (bps) mejadi 3,89%, dan tenor 10 tahun turun 9 bps menjadi 4,35%.