Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Terpeleset, Dibuka Rp17.539/US$

Tim Riset Bloomberg Technoz
10 September 2026 09:36

Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah terpeleset 0,15% kala membuka perdagangan pasar spot ke Rp17.539/US$, Kamis (10/9/2026). Namun tak lama berselang rupiah memangkas pelemahannya menjadi 0,02% ke Rp17.516/US$. 

Harga minyak mentah yang bertahan tinggi di US$101,2/barel menahan laju rupiah, kala sebagian besar mata uang Asia berada di zona hijau. Won Korea Selatan kali ini memimpin penguatan 0,21%, disusul yen Jepang 0,12%.

Sementara, dolar Singapura, yuan China dan offshore menguat lebih terbatas. Sebaliknya, peso Filipina berada di zona merah bersama ringgit Malaysia dan rupiah.  

Mata uang Asia mayoritas menguat, sementara rupiah, ringgit, dan peso melemah. (Bloomberg)

Dari dalam negeri, adanya aksi beli investor di pasar surat utang domestik menopang laju rupiah. Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed masih membayangi pasar obligasi lantaran selisih yield yang berpotensi semakin tipis antara INDON dengan US Treasury. 

Saat ini, yield obligasi AS, US Treasury kembali naik 5,4 basis poin ke 4,84%, dan INDON 10 tahun 5,76%. Memang selisih dengan INDOGB 10 tahun di 7,08% masih cukup lebar, tetapi investor harus menanggung risiko kurs dalam mengempit obligasi ini.