Logo Bloomberg Technoz

Harga Minyak Mahal & Yield Obligasi Naik, ke Mana Arah Rupiah?

Tim Riset Bloomberg Technoz
10 September 2026 08:01

Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah diproyeksikan masih memiliki tenaga untuk mempertahankan penguatannya di pasar spot, Kamis (10/9/2026), meskipun harga minyak mentah terus naik hingga menyentuh US$101,21/barel. 

Rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) pagi ini turun tipis 0,09% di Rp17.538/US$. Sebab, indeks dolar Amerika Serikat (AS) masih stabil di posisi 98,8. 

Pada perdagangan kemarin, mayoritas mata uang Asia menguat. Pada pagi hari ini per 06:56 WIB, sebagian mata uang di pasar yang sudah buka menguat terbatas. Yen Jepang terapreisasi 0,04%, yuan offshore 0,02%, dan dolar Singapura 0,01%. Sedangkan won Korea Selatan melemah tipis 0,02%. 


Namun pada 07:12 WIB, yen Jepang terpeleset di zona merah dan melemah terbatas 0,01%. Sementara, ringgit Malaysia memimpin penguatan 0,02%, disusul yuan offshore dan dolar Hong Kong. 

Mata uang Asia pada Kamis (10/9/2026). (Bloomberg)

Penguatan rupiah masih berpotensi berlanjut setelah kemarin mencatat kinerja terbaik di antara mata uang Asia, dan menuju level terkuatnya dalam hampir empat bulan terakhir. Penguatan itu ditopang oleh meredanya kekhawatiran terhadap kebijakan domestik, dan membaiknya arus modal asing ke pasar obligasi.