Rupiah Berisiko Terjegal Harga Minyak & Sentimen Hawkish The Fed
Tim Riset Bloomberg Technoz
11 September 2026 08:15

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah spot berpotensi melanjutkan pelemahan, menyusul tingginya harga minyak mentah Brent ke US$108,49/barel. Mata uang Asia juga belum bergerak kemana-mana, kecuali zona merah.
Won Korea Selatan, dolar Singapura, dan yuan offshore memang menguat tapi sangat terbatas. Sementara, baht Thailand melemah tajam, disusul ringgit Malaysia dan yen Jepang.
Sedangkan, rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) masih bertahan di kisaran Rp17.616/US$.
Selain dipicu kenaikan harga minyak, pelemahan mata uang kawasan juga turut diwarnai oleh kekhawatiran akan inflasi setelah data indeks harga produsen (PPI) AS lebih tinggi dari perkiraan, 0,4% pada Agustus, dan menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak Mei. Data indeks harga konsumen yang akan rilis hari ini juga akan menjadi ujian penting bagi sentimen risiko.
Aksi jual US Treasury juga merembet pada pasar obligasi negara-negara Asia. Yield obligasi UST tenor 10 tahun naik hingga hampir menyentuh 5%, setelah naik 18 basis poin (bps) sepanjang pekan ini.



























