Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Sentuh Rp17.600/US$, Harga Minyak dan Inflasi Jadi Beban

Tim Riset Bloomberg Technoz
11 September 2026 09:32

Mata uang rupiah dengan latar dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Mata uang rupiah dengan latar dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah dibuka melemah pada perdagangan Jumat (11/9/2026) sebesar 0,22%% ke Rp17.577/US$, terhimpit oleh pergerakan harga minyak serta sentimen hawkish pasar global. Harga minyak yang sempat menyentuh US$108/barel memicu kekhawatiran inflasi global secara luas. 

Dari pasar Asia, sebagian besar mata uang melemah. Baht Thailand memimpin pelemahan, disusul peso Filipina, rupiah, dolar Taiwan, dan ringgit Malaysia. Sedangkan, penguatan pada yuan offshore, yen Jepang, dolar Singapura, dan dolar Hong Kong terbatas. 

Rupiah juga kembali tergerus hingga sentuh Rp17.600/US$ pada 09:14 WIB, menyusul gerak rupiah offshore yang berada di kisaran Rp17.645/US$. 

Pergerakan mata uang Asia pada Jumat (11/9/2026). (Bloomberg)

Kekhawatiran akan inflasi membuat investor melepas obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS), US Treasury dan membuat yield tenor acuan 10 tahun hampir menyentuh 5%, tepatnya 4,96%. 

Sebagai acuan utama pasar obligasi global, yield Treasury menjadi harga referensi bagi pasar surat utang di seluruh dunia. Pasar obligasi global pun kini berada di bawah tekanan.