Logo Bloomberg Technoz

"Untuk melihat apakah pergeseran tersebut bersifat sementara atau mencerminkan perubahan yang lebih mendasar, diperlukan pengamatan terhadap realisasi investasi dalam beberapa periode ke depan, termasuk perkembangan pipeline proyek pada masing-masing komoditas," lanjutnya.

Peta Jalan

Shinta melanjutkan, agar arus modal tidak hanya menumpuk pada komoditas tertentu, Apindo mendorong pemerintah untuk memperkuat dan mengimplementasikan peta jalan hilirisasi secara konsisten.

Peta jalan tersebut mencakup 28 komoditas strategis di delapan sektor, mulai dari mineral, perkebunan, kehutanan, hingga kelautan dan perikanan.

Shinta menekankan setiap komoditas memiliki kesiapan, struktur pasar, kebutuhan teknologi, dan tantangan infrastruktur yang berbeda, sehingga membutuhkan penanganan yang spesifik.

"Peta jalan tersebut perlu diterjemahkan menjadi prioritas dan tahapan pengembangan yang jelas untuk setiap komoditas karena masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda," tegas Shinta.

Roadmap 28 komoditas fokus hilirisasi RI hingga 2029./dok. BKPM

Dia juga menyoroti pentingnya dukungan iklim investasi yang komprehensif, mulai dari ketersediaan energi yang kompetitif, logistik, kepastian perizinan, pembiayaan jangka panjang, hingga pengembangan sumber daya manusia (SDM).

Selain itu, skema insentif investasi diharapkan dapat dikaitkan langsung dengan kedalaman hilirisasi, transfer teknologi, serta penggunaan rantai pasok dalam negeri.

"Pada akhirnya, kita berharap peningkatan investasi bauksit perlu diarahkan agar tidak hanya menambah kapasitas pengolahan, tetapi juga memperdalam rantai nilai, memperkuat keterkaitan dengan industri domestik, meningkatkan ekspor bernilai tambah, dan menciptakan pekerjaan berkualitas," ujarnya.

Untuk diketahui, investasi hilirisasi bauksit di dalam negeri untuk pertama kalinya menjadi komoditas dengan realisasi investasi hilirisasi terbesar di Indonesia, menggeser nikel yang selama ini mendominasi investasi sektor pengolahan mineral.

Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), investasi pada sektor bauksit menjadi motor utama pertumbuhan investasi nasional pada kuartal II-2026 dengan mencatatkan realisasi mencapai Rp40,1 triliun.

Angka tersebut melonjak 193% dibandingkan dengan kuartal-I 2026 yang senilai Rp13,7 triliun.

Posisi sektor bauksit disusul oleh nikel yang mencatatkan realisasi investasi sebesar Rp29,4 triliun, tembaga Rp16,7 triliun, besi baja Rp13,2 triliun, pasir silika Rp4 triliun, serta komoditas lainnya seperti timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, aspal buton, dan logam tanah jarang sebesar Rp4,7 triliun.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani menjelaskan pergeseran ini dipicu oleh percepatan pembangunan proyek pengolahan bauksit, baik yang didanai oleh investor domestik maupun asing.

"Bauksit ini nomor 1, biasanya kita tahu selalu nikel. Nah, ini ada shifting bauksit karena memang ada beberapa pembangunan bauksit, baik yang dilakukan oleh dalam negeri maupun luar negeri," jelas Rosan dalam laporan capaian investasi kepada Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, belum lama ini.

Menurutnya, perkembangan ini menunjukkan program hilirisasi nasional tidak hanya bertumpu pada satu jenis sumber daya alam.

Meski demikian, Rosan mengakui bahwa pengolahan sebagian besar komoditas non-nikel saat ini masih berada pada tahap awal pengembangan rantai pasok.

"Hilirisasi yang kita lakukan ini lebih banyak mungkin hilirisasi, kalau kita bilang baru step pertama atau step kedua," tuturnya.

(smr/wdh)

No more pages