Logo Bloomberg Technoz

Perang yang bermula saat AS dan Israel menyerang Iran pada Februari lalu kini memasuki fase eskalasi baru setelah runtuhnya kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani bulan lalu. Meski intensitas pertempuran masih relatif lebih rendah dibandingkan puncak konflik, tensi kembali memanas setelah terjadi serangan balasan selama 12 hari berturut-turut seiring komitmen kedua belah pihak untuk membalas setiap pergerakan lawan.

Iran memperingatkan akan melakukan pembalasan terhadap infrastruktur di kawasan, termasuk fasilitas energi, jika Trump mewujudkan ancamannya awal pekan ini untuk menghancurkan satu jembatan atau pembangkit listrik setiap kali Teheran menembaki kapal-kapal di Selat Hormuz.

Lalu lintas pelayaran di jalur perairan krusial tersebut—yang sebelum perang mengangkut sekitar seperlima pasokan energi dunia—kini menyusut drastis. Keterlibatan Houthi dalam konflik ini memicu ancaman penutupan jalur pelayaran strategis lainnya. Sejumlah kapal dilaporkan mulai menghindari Selat Bab el-Mandeb yang berada di mulut Laut Merah.

“Teheran dan Houthi menunjukkan bahwa mereka masih memiliki ruang untuk terus meningkatkan eskalasi,” tulis Dina Esfandiary dan Becca Wasser untuk Bloomberg Economics. “Namun seiring berjalannya eskalasi ini, menemukan jalan keluar menjadi makin sulit.”

Selat Hormuz dan Bab El-Mandeb menjadi kunci bagi aliran minyak. (Sumber: Bloomberg)

Kedua belah pihak sama-sama enggan untuk segera kembali ke meja perundingan, bahkan saat risiko terhadap pasar energi dan perekonomian dunia makin meningkat.

“Selama Amerika Serikat gagal memahami bahwa satu-satunya jalan ke depan adalah dengan menghormati rakyat Iran dan kepentingan nasional Iran, tidak ada prospek kemajuan dalam hal ini,” tegas Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kepada televisi pemerintah.

Trump bulan lalu sempat menyinggung risiko krisis ekonomi global sebagai alasan utama ia menyetujui gencatan senjata. Namun pada hari Kamis, ia menyatakan bahwa Iran “belum siap” untuk sebuah kesepakatan dan memberi sinyal bahwa serangan AS akan terus berlanjut. “Mereka membutuhkan hal yang sama lebih banyak lagi,” ujarnya.

Eskalasi terbaru memperlihatkan AS membombardir Iran selama 12 hari berturut-turut, dengan dalih menargetkan fasilitas rudal dan pertahanan udara. Televisi pemerintah Iran melaporkan serangan semalam menghantam terminal penumpang di perbatasan Shalamcheh dengan Irak yang menewaskan dua orang. Di sisi lain, Iran meluncurkan tembakan ke pangkalan-pangkalan dan situs militer AS di Kuwait serta Yordania.

Trump juga menghadapi tekanan politik menjelang pemilu sela pada November, ketika Partai Republik berupaya mempertahankan mayoritas di Kongres. Sejumlah jajak pendapat menunjukkan perang tersebut tidak populer di kalangan publik, sementara dampaknya semakin membebani pemilih, terutama karena harga bensin kembali naik hingga di atas US$4 per galon pekan ini. Pada Kamis, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS meloloskan resolusi kedua yang menyerukan agar Trump menghentikan perang, meskipun resolusi tersebut bersifat simbolis.

Serangan dari Yaman juga berpotensi semakin mendorong kenaikan harga energi karena Laut Merah kini menjadi jalur alternatif penting bagi ekspor minyak mentah, khususnya dari Arab Saudi, ketika Selat Hormuz sebagian besar tidak dapat dilalui. Kelompok Houthi bahkan telah mengirim surat elektronik kepada para pemilik kapal agar tidak berlayar menuju pelabuhan-pelabuhan di Arab Saudi.

Houthi merupakan bagian dari kelompok yang dikenal sebagai Axis of Resistance, aliansi longgar berbagai milisi yang didanai dan dilatih Iran, namun beroperasi dengan tingkat otonomi tertentu. Kelompok ini menguasai sebagian besar wilayah padat penduduk di Yaman, termasuk ibu kota Sanaa dan Pelabuhan Hodeida di Laut Merah. Arab Saudi selama bertahun-tahun berupaya menggulingkan Houthi, sementara kelompok tersebut menuduh Riyadh berada di balik serangan terhadap Bandara Sanaa pekan lalu yang memicu kembali bentrokan terbaru.

Kelompok Houthi sebelumnya juga telah memanfaatkan posisi strategisnya untuk mengganggu pelayaran di Laut Merah dengan melancarkan serangan drone dan rudal sejak 2023 sebagai respons atas serangan Israel terhadap Hamas di Gaza. Tahun lalu, Trump memerintahkan operasi pengeboman terhadap Houthi guna memulihkan keamanan jalur pelayaran, namun menghentikan operasi tersebut setelah dua bulan ketika gencatan senjata parsial berhasil disepakati.

(bbn)

No more pages