“FPSO Kutai North merepresentasikan sebuah proyek dengan skala dan ambisi yang luar biasa. Dengan panjang 350 meter, lebar 64 meter, dan tinggi 32 meter, unit ini akan menjadi salah satu FPSO terbesar yang pernah dibangun di seluruh dunia. Setelah selesai, ini akan menjadi FPSO terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara,” kata Araldi dalam peresmian proyek tersebut di Kepulauan Riau, Kamis (23/7/2026).
Berdasarkan data yang ditampilkan, total nilai investasi Kutei North Hub mencapai US$11,8 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar US$2,9 miliar dialokasikan untuk pembangunan FPSO Bahtera Haluan Lestari.
Proyek tersebut diperkirakan menghasilkan pasokan gas hingga 1 miliar kaki kubik standar gas per hari (bscfd) dan kondensat sebesar 80.000 barel per hari (bph).
Lebih lanjut, persetujuan Plan of Development (PoD) diperoleh pada Agustus 2024, sekitar 10 bulan setelah penemuan Lapangan Geng North pada Oktober 2023.
Selanjutnya, proyek memasuki tahap Front End Engineering Design (FEED) yang rampung pada Januari 2025, diikuti persetujuan Authorization for Expenditure (AFE) untuk jaringan pipa ekspor gas, Onshore Receiving Facility (ORF), dan FPSO pada Juli 2025.
Pada November 2025, persetujuan AFE diperoleh untuk lingkup subsea, umbilicals, risers, dan flowlines (SURF).
Sementara itu, Final Investment Decision (FID) disetujui pada Maret 2026, sebelum proyek memasuki tahapan pemotongan baja pertama dan keel laying ceremony FPSO pada Juli 2026.
“Menargetkan produksi pertama pada tahun 2028, pengembangan bersejarah ini ditargetkan untuk mencapai tahap awal operasi dalam waktu kurang dari tiga tahun setelah keputusan FID, yang mencerminkan komitmen kuat, kolaborasi, dan keunggulan eksekusi dari semua pihak,” tegas Araldi.
Sekadar informasi, proyek tersebut mencakup pengeboran 16 sumur produksi di kedalaman 1.700—2.000 meter, yang akan terhubung ke FPSO baru dengan kapasitas pemrosesan lebih dari 1 miliar kaki kubik gas per hari serta 90.000 barel kondensat per hari.
Gas yang diproduksi akan dialirkan ke darat melalui pipa guna memasok jaringan pipa domestik serta mendukung produksi LNG di fasilitas Bontang untuk kebutuhan pasar domestik dan ekspor.
Adapun, kondensat akan diproses dan disimpan di fasilitas FPSO lepas pantai sebelum dikirim menggunakan kapal tanker.
Proyek tersebut juga akan menjadi bagian dari aset yang akan digabungkan dalam kerja sama bisnis antara Eni dan perusahaan energi Malaysia, Petronas.
Langkah itu dilakukan dalam membentuk perusahaan baru bernama Searah yang ditargetkan memiliki produksi lebih dari 500.000 barel setara minyak per hari pada 2029.
Adapun, perusahaan rekayasa dan konstruksi asal Italia, Saipem, memperoleh kontrak senilai sekitar US$2 miliar untuk porsi perusahaan dalam proyek pembangunan FPSO di Proyek Pengembangan Lapangan Kutei North Hub.
Kontrak tersebut diraih Saipem melalui anak usahanya, PT Saipem Indonesia yang bermitra dengan PT Tripatra Engineers and Constructors. Pemberi kontrak adalah Eni North Ganal, perusahaan yang dikendalikan oleh Searah Ltd, entitas hasil penggabungan bisnis Eni dan Petronas.
“Kontrak tersebut mencakup pekerjaan EPCOuntuk unit FPSO pada Proyek Pengembangan Lapangan Kutei North Hub,” ungkap manajemen Saipem dalam keterangan tertulis, Selasa (7/7/2026).
Saipem menjelaskan ruang lingkup pekerjaan mencakup engineering, procurement, construction and installation (EPCI) untuk satu unit FPSO. Proyek tersebut diperkirakan akan dikerjakan selama 48 bulan.
Pekerjaan yang akan dilakukan meliputi manajemen proyek, rekayasa rinci, pengadaan material, fabrikasi, konstruksi, instalasi, hingga proses commissioning dan start-up unit FPSO.
Saipem menyebut proyek FPSO Kutei merupakan bagian dari pengembangan Kutei North Hub, yang mencakup pengembangan fasilitas bawah laut (subsea) yang terhubung ke FPSO baru, pembangunan pipa ekspor gas menuju Kilang LNG Bontang, serta penyaluran gas untuk pengguna domestik melalui jaringan East Kalimantan System yang telah tersedia.
(azr/ros)































