Serikat pekerja di Naver Corp., penyedia mesin pencari terkemuka di negara tersebut, sedang membentuk koalisi dengan rekan-rekan di berbagai afiliasi untuk memperkuat daya tawar mereka.
Apa yang awalnya bermula dari seruan para pekerja agar Samsung dan SK Hynix Inc.—dua produsen chip terbesar di negara tersebut—berbagi keuntungan besar yang mereka raih dari booming kecerdasan buatan (AI), kini meluas ke sektor-sektor yang hampir tidak ada hubungannya dengan AI.
Hal ini menjadi pengingat akan risiko yang dihadapi para investor di negara yang secara historis memiliki salah satu kehadiran serikat pekerja paling militan di kawasan ini.
Namun, otomatisasi dan AI mulai muncul sebagai sumber gesekan utama bagi beberapa perusahaan.
Serikat pekerja di Hyundai Motor dan afiliasinya, Kia Corp., menuntut jaminan pekerjaan sebagai perlindungan terhadap penerapan robot humanoid Atlas di masa depan.
Serikat pekerja Hyundai menyatakan, “tidak ada satu pun robot yang boleh masuk ke pabrik tanpa persetujuan,” dan menuntut persetujuan pekerja sebelum perusahaan berinvestasi dalam teknologi baru dan mobil.
Hal itu menggarisbawahi kecemasan yang melanda seluruh dunia di tengah peringatan CEO Meta Platforms Inc., Mark Zuckerberg, bahwa ini akan menjadi “tahun di mana AI mulai secara dramatis mengubah cara kita bekerja.”
Di Australia, beberapa pekerja pelabuhan menuntut jam kerja mingguan yang lebih pendek tanpa pengurangan gaji, dengan alasan bahwa mereka berhak menikmati manfaat dari peningkatan efisiensi.
Sementara itu, sebuah organisasi serikat pekerja utama di Eropa menyerukan adanya undang-undang untuk mengatur penggunaan AI dan memberikan hak suara kepada para pekerja dalam menentukan bagaimana teknologi tersebut diterapkan.
Di Korea, perdebatan meluas dengan berfokus pada apakah perlu ada review mengenai cara pendistribusian keuntungan tak terduga perusahaan. Para pekerja dan serikat pekerja berpendapat bahwa bonus biasanya diberikan kepada manajer senior, bukan kepada karyawan yang menghadapi ketidakpastian terbesar akibat gangguan AI dan restrukturisasi perusahaan.
“Karena pasar tenaga kerja yang kaku, perlindungan tenaga kerja membuat perusahaan sulit untuk memberhentikan karyawan,” kata Bumki Son, ekonom di Barclays Bank Plc. “Hal ini hampir menjadikan kesepakatan paket kompensasi terbaru sebagai opsi gratis bagi para pekerja — di mana mereka terlindungi saat kondisi ekonomi lesu dan tetap dibayar saat siklus ekonomi membaik.”
Bahkan di dalam perusahaan, ketegangan mulai muncul terkait perbedaan dalam konsesi yang diperoleh. Di Samsung, karyawan yang memproduksi ponsel pintar, televisi, dan peralatan rumah tangga, menggelar aksi protes pekan lalu terkait ketimpangan bonus dengan rekan-rekan mereka di divisi semikonduktor.
Sementara itu, kelompok-kelompok bisnis telah menyuarakan kecemasan, dengan menyatakan bahwa amandemen undang-undang baru-baru ini yang memperluas hak-hak pekerja telah memberikan pengaruh yang berlebihan kepada serikat pekerja dan mendorong para pekerja untuk mengancam melakukan pemogokan.
Anggota parlemen dari partai oposisi mendesak revisi undang-undang tersebut, termasuk pembatasan ruang lingkup perundingan bersama dan pembatasan sengketa hanya pada kondisi kerja.
Pengaruh serikat pekerja yang semakin meluas ini sudah menimbulkan tantangan finansial bagi beberapa perusahaan. Menurut Yonhap News, penghentian kerja di Hyundai dapat menimbulkan kerugian lebih dari 18,7 miliar won atau setara US$13 juta per jam.
(bbn)
































