“Komoditas bauksit terutama yang telah dimurnikan tidak lagi sekadar dipandang sebagai bahan mentah industri manufaktur konvensional, melainkan pondasi utama bagi ekosistem energi bersih dan rantai pasok otomotif masa depan.”
Dalam ekosistem kendaraan listrik dan baterai, bauksit yang telah diolah menjadi aluminium memegang beberapa fungsi kunci di antaranya:
1. Komponen Pembungkus & Proteksi Baterai (Battery Pack & Housing):
Aluminium digunakan secara luas sebagai pelindung dan struktur rumah baterai (pack housing) serta cooling plate karena sifatnya yang ringan namun kuat serta memiliki konduktivitas termal yang baik.
2. Kolektor Arus (Current Collector):
Lembaran atau foil aluminium tipis merupakan komponen teknis utama yang berfungsi sebagai kolektor arus pada kutub katoda dalam sel baterai ion litium.
3. Penyalutan Katoda (Coating Alumina):
High-purity alumina (HPA) hasil pemurnian bauksit digunakan sebagai lapisan pelindung (coating) pada pemisah baterai untuk mencegah korsleting dan meningkatkan ketahanan panas baterai.
4. Perbandingan Bobot (Lightweighting Vehicle):
Untuk menyeimbangkan bobot baterai EV yang berat, pabrikan otomotif memangkas berat sasis dan bodi kendaraan dengan mengganti baja menjadi aluminium.
Permintaan Global
Ronald mengatakan, berdasarkan data International Energy Agency (IEA), permintaan baterai EV global diproyeksikan melonjak dari sekitar 340 GWh menjadi lebih dari 3.500 GWh hingga 4.700 GWh pada rentang 2030.
“Peningkatan produksi baterai secara masif ini berbanding lurus dengan kebutuhan alumina dan aluminum foil untuk kolektor arus dan struktur sel,” ungkap dia.
Sebelumnya, Ronald sempat mengatakan bahwa biaya pembangunan pabrik pengolahan bauksit juga terbilang lebih mahal jika dibandingkan dengan pembangunan smelter nikel.
Dia mengungkapkan jika produksi bijih bauksit nasional dikerek menjadi sekitar 40—45 juta ton per tahun, cadangan bijih bauksit sekitar 2,86 miliar ton baru akan habis dalam 60 tahun mendatang.
Adapun, saat ini terdapat tiga pabrik pengolahan bauksit dengan kapasitas bijih sekitar 30 juta ton.
“Kalau nikel itu karena investasinya kecil. Kedua, environment-nya juga tidak serumit bauksit gitu. Kalau bauksit itu kita harapkan output bauksitnya enggak boleh lebih dari 40 juta,” kata Ronald ketika dihubungi, Rabu (22/4/2026).
“Kalau misal 40 [juta ton] kita pakai 45 [juta ton], kita masih ada panjang waktunya. Di atas 60 tahun itu cadangan bauksit ya,” lanjut Ronald.
Ihwal smelter produk turunan bauksit, Ronald mencontohkan pabrik pengolahan alumina saja membutuhkan tanah sekitar 700—1.000 hektare (ha) untuk menghasilkan sekitar 2 juta ton. Pengolahan bauksit menjadi alumina juga memerlukan bahan kimia yang kompleks.
Sementara itu, pabrik pengolahan bauksit menjadi aluminium, terbilang mahal lagi sebab membutuhkan listrik yang cukup besar dan umumnya dipasok dari pembangkit listrik.
“Cuma memang power plant yang jadi masalah. Itu yang menjadikan biaya [smelter aluminium] tinggi. Akan tetapi, kalau pabriknya sendiri, pabrik aluminium sama pabrik alumina, lebih complicated alumina,” tegasnya.
Dia juga menyarankan pemerintah untuk membenahi peta jalan hilirisasi bauksit, agar aluminium yang dihasilkan dapat dimanfaatkan oleh industri turunan.
Untuk diketahui, investasi hilirisasi bauksit di dalam negeri untuk pertama kalinya menjadi komoditas dengan realisasi investasi hilirisasi terbesar di Indonesia, menggeser investasi hilirisasi nikel yang selama ini mendominasi investasi sektor pengolahan mineral.
Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), investasi pada sektor bauksit menjadi motor utama pertumbuhan investasi nasional pada kuartal II-2026 dengan mencatatkan realisasi mencapai Rp40,1 triliun.
Angka tersebut melonjak 193% dibandingkan dengan kuartal-I 2026 yang senilai Rp13,7 triliun.
Adapun, posisi sektor bauksit disusul oleh nikel yang mencatatkan realisasi investasi sebesar Rp29,4 triliun, tembaga Rp16,7 triliun, besi baja Rp13,2 triliun, pasir silika Rp4 triliun, serta komoditas lainnya seperti timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, aspal buton, dan logam tanah jarang sebesar Rp4,7 triliun.
(smr/wdh)
































