Dari pendapatan tersebut alokasi bagian pemerintah sebesar US$12,99 miliar atau setara dengan Rp208 triliun atau sekitar 31,5% dari gross revenue.
Sementara itu, bagian kontraktor adalah US$8,12 miliar atau sekitar 19,7% dari gross revenue, dan biaya cost recovery sejumlah US$18,33 miliar atau sekitar 44,4%.
Proyek Laut Dalam
Proyek tersebut mencakup pengeboran 16 sumur produksi di kedalaman 1.700—2.000 meter, yang akan terhubung ke FPSO baru dengan kapasitas pemrosesan lebih dari 1 miliar kaki kubik gas per hari serta 90.000 barel kondensat per hari.
Gas yang diproduksi akan dialirkan ke darat melalui pipa guna memasok jaringan pipa domestik serta mendukung produksi LNG di fasilitas Bontang untuk kebutuhan pasar domestik dan ekspor.
Adapun, kondensat akan diproses dan disimpan di fasilitas FPSO lepas pantai sebelum dikirim menggunakan kapal tanker.
Proyek tersebut juga akan menjadi bagian dari aset yang akan digabungkan dalam kerja sama bisnis antara Eni dan perusahaan energi Malaysia Petronas.
Langkah itu dilakukan dalam membentuk perusahaan baru bernama Searah yang ditargetkan memiliki produksi lebih dari 500.000 barel setara minyak per hari pada 2029.
Sekadar catatan, perusahaan rekayasa dan konstruksi asal Italia, Saipem, memperoleh kontrak senilai sekitar US$2 miliar untuk porsi perusahaan dalam proyek pembangunan FPSO di Proyek Pengembangan Lapangan Kutei North Hub.
Kontrak tersebut diraih Saipem melalui anak usahanya, PT Saipem Indonesia yang bermitra dengan PT Tripatra Engineers and Constructors. Pemberi kontrak adalah Eni North Ganal, perusahaan yang dikendalikan oleh Searah Ltd., entitas hasil penggabungan bisnis Eni dan Petronas.
“Kontrak tersebut mencakup pekerjaan EPCOuntuk unit FPSO pada Proyek Pengembangan Lapangan Kutei North Hub,” ungkap manajemen Saipem dalam keterangan tertulis, Selasa (7/7/2026).
Saipem menjelaskan ruang lingkup pekerjaan mencakup engineering, procurement, construction and installation (EPCI) untuk satu unit FPSO. Proyek tersebut diperkirakan akan dikerjakan selama 48 bulan.
Pekerjaan yang akan dilakukan meliputi manajemen proyek, rekayasa rinci, pengadaan material, fabrikasi, konstruksi, instalasi, hingga proses commissioning dan start-up unit FPSO.
Saipem menyebut proyek FPSO Kutei merupakan bagian dari pengembangan Kutei North Hub, yang mencakup pengembangan fasilitas bawah laut (subsea) yang terhubung ke FPSO baru, pembangunan pipa ekspor gas menuju Kilang LNG Bontang, serta penyaluran gas untuk pengguna domestik melalui jaringan East Kalimantan System yang telah tersedia.
(azr/wdh)
































