Logo Bloomberg Technoz

Pergeseran Arah

Dia melanjutkan, pergeseran arah investasi dari pengolahan bauksit (refinery) menjadi alumina hingga ke peleburan (smelter) menjadi aluminium kini sudah berjalan secara simultan. 

Sejak kebijakan hilirisasi dicanangkan pada 2014, kata Ronald, dinamika industri tambang bauksit terus menunjukkan perkembangan positif; terutama dengan masuknya investor-investor baru.

“Dalam tiga hingga empat tahun terakhir, pembangunan smelter aluminium di Indonesia mencatatkan kemajuan pesat,” kata dia.

Berdasarkan catatan ABI, pada tahap pengolahan bauksit ke alumina, tercatat ada sekitar 17 perusahaan yang terlibat, dengan perincian 14 perusahaan dalam tahap persiapan dan 3 perusahaan telah melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking).

Sementara itu, untuk industri pemurnian aluminium, ABI mencatat sudah ada sekitar 3 hingga 4 perusahaan yang mulai membangun fasilitas smelter, serta 5 perusahaan lain yang tengah menyusun perencanaan.

"Kami sangat gembira melihat suasana dan optimisme dalam hilirisasi bauksit ini yang akhirnya menjadi kenyataan," tutup Ronald.

Peta ekspansi pabrik alumina di Indonesia. (Bloomberg)

Seimbangkan Produksi 

Meski terjadi tren kenaikan investasi hilir bauksit, Ronald berpendapat produksi bijih bauksit nasional sebaiknya dijaga pada kisaran 50 juta ton per tahun.

"Produksi jangan sampai melebihi sekitar 50 juta ton per tahun. Selain menjaga keberlanjutan cadangan, langkah ini juga penting agar harga bijih bauksit tetap sehat,” ungkapnya.

Menurut Ronald, apabila produksi bijih bauksit nasional mencapai sekitar 50 juta ton per tahun, maka produksi alumina yang dihasilkan diperkirakan berkisar 15—17 juta ton.

Dengan asumsi setiap refinery memproduksi sekitar 2 juta ton alumina per tahun, Indonesia diperkirakan membutuhkan maksimal sekitar delapan refinery. 

Sementara itu, apabila kapasitas masing-masing refinery mencapai 3 juta ton per tahun, jumlah idealnya sekitar lima hingga enam fasilitas.

"Perhitungan ini merupakan pendekatan sederhana berdasarkan keseimbangan material antara produksi bijih bauksit dan kebutuhan alumina,” ungkapnya.

Menurutnya, keseimbangan tersebut penting agar investasi refinery tetap ekonomis sepanjang umur operasinya.

Untuk diketahui, investasi hilirisasi bauksit di dalam negeri untuk pertama kalinya menjadi komoditas dengan realisasi investasi hilirisasi terbesar di Indonesia, menggeser investasi hilirisasi nikel yang selama ini mendominasi investasi sektor pengolahan mineral.

Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), investasi pada sektor bauksit menjadi motor utama pertumbuhan investasi nasional pada kuartal II-2026 dengan mencatatkan realisasi mencapai Rp40,1 triliun.

Angka tersebut melonjak 193% dibandingkan dengan kuartal-I 2026 yang senilai Rp13,7 triliun.

Posisi sektor bauksit disusul oleh nikel yang mencatatkan realisasi investasi sebesar Rp29,4 triliun, tembaga Rp16,7 triliun, besi baja Rp13,2 triliun, pasir silika Rp4 triliun, serta komoditas lainnya seperti timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, aspal buton, dan logam tanah jarang sebesar Rp4,7 triliun.

Pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina dan pembuatan aluminium./Bloomberg-Dhiraj Singh

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani menjelaskan pergeseran ini dipicu oleh percepatan pembangunan proyek pengolahan bauksit, baik yang didanai oleh investor domestik maupun asing.

"Bauksit ini nomor 1, biasanya kita tahu selalu nikel. Nah, ini ada shifting bauksit karena memang ada beberapa pembangunan bauksit, baik yang dilakukan oleh dalam negeri maupun luar negeri," jelas Rosan dalam laporan capaian investasi kepada Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, belum lama ini.

Menurutnya, perkembangan ini menunjukkan program hilirisasi nasional tidak hanya bertumpu pada satu jenis sumber daya alam.

Meski demikian, Rosan mengakui bahwa pengolahan sebagian besar komoditas non-nikel saat ini masih berada pada tahap awal pengembangan rantai pasok.

"Hilirisasi yang kita lakukan ini lebih banyak mungkin hilirisasi, kalau kita bilang baru step pertama atau step kedua," tuturnya.

(smr/wdh)

No more pages