Aksi saling serang selama sepekan terakhir telah meluas melampaui target-target militer hingga menghantam jembatan, fasilitas umum, dan area pelabuhan. Hal ini memperkecil peluang untuk kembali ke kesepakatan gencatan senjata yang rapuh, yang disepakati bulan lalu. Menambah pesimisme, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam sebuah wawancara yang diunggah di saluran Telegram-nya pada hari Minggu menyatakan bahwa tuntutan tertentu terkait program nuklir negaranya kemungkinan tetap "tidak dapat diselesaikan."
CENTCOM menjelaskan bahwa serangan AS baru-baru ini bertujuan untuk mengurangi kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran komersial serta "menghukum dengan cepat" pasukan IRGC.
Dalam gelombang serangan terbaru, pasukan AS menggempur Pulau Qeshm di Teluk Persia, serta kota-kota di bagian selatan seperti Shadegan, Sirik, dan Hajiabad, demikian dilaporkan media lokal Iran. Belum ada rincian langsung mengenai korban jiwa maupun tingkat kerusakan.
Kuwait kembali menanggung dampak terparah dari aksi balasan Iran setelah fasilitas pembangkit listrik dan penyulingan air laut menjadi sasaran serangan. Otoritas lokal menyatakan ini merupakan serangan ketiga dalam tiga hari terakhir, yang memicu kebakaran hebat serta melumpuhkan sejumlah besar unit pembangkit. Media pemerintah Iran, IRIB News, melaporkan bahwa serangan drone juga menyasar pasukan AS di Camp Buehring dan Pangkalan Udara Ali Al Salem, meski belum ada konfirmasi resmi apakah kedua lokasi tersebut terkena serangan.
Melalui unggahan di media sosial, militer Kuwait menyatakan bahwa serangan terhadap fasilitas listrik dan penyulingan air tersebut menyebabkan kebakaran dan "kerusakan parah" pada "lembaga-institusi vital."
Sementara itu, Bahrain membunyikan sirine peringatan bahaya pada hari Minggu sebelum akhirnya mengumumkan berhasil mengintersepsi gelombang serangan udara Iran.
Israel pada hari Minggu mengklaim berhasil mengintersepsi sebuah drone Iran di dekat perbatasan Israel-Suriah. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, memberikan peringatan keras kepada Teheran bahwa pihaknya akan menyerang balik jika terus menjadi sasaran aksi militer.
Media AS The New York Times, mengutip pejabat AS yang enggan disebutkan namanya, melaporkan bahwa AS tengah mengirimkan lebih banyak jet tempur ke Timur Tengah, termasuk jet tempur F-16 dan F-35, serta pesawat tanker pengisi bahan bakar di udara. Pergerakan armada ini mengindikasikan potensi eskalasi serangan yang lebih besar dari pihak AS.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah jenis Brent melonjak mendekati US$88 per barel pada hari Jumat—mencatatkan kenaikan mingguan terbesar sejak April lalu.
“Pasar minyak kembali mengetat, yang kemungkinan besar akan terus menopang kenaikan harga minyak,” ujar Giovanni Staunovo, analis komoditas di UBS Group AG melalui sambungan telepon. “Serangan berulang terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz telah menyebabkan penurunan jumlah kapal tanker yang keluar dari kawasan Teluk,” tambahnya, seraya menyebut bahwa “serangan terhadap infrastruktur energi adalah hal yang memicu kekhawatiran para pelaku pasar minyak.”
Dalam pernyataan terpisah pada hari Sabtu, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar menyampaikan kekhawatiran mendalam atas eskalasi konflik yang terjadi, sementara Yordania memanggil diplomat Iran. Menargetkan infrastruktur sipil, termasuk sekolah, rumah sakit, fasilitas penyulingan air, fasilitas energi, dan pusat transportasi "tidak dapat diterima atau dibenarkan dalam kondisi apa pun," tegas pihak UEA.
Ketegangan juga memuncak di Selat Hormuz, jalur perairan vital bagi pasokan energi global yang menjadi inti negosiasi dan tempat Teheran menegaskan kontrolnya. Angkatan Laut IRGC pada hari Minggu menyatakan telah menghentikan empat kapal tak dikenal yang mencoba menggunakan "jalur tidak aman" setelah mengabaikan peringatan.
Dua kapal di antaranya "mengalami insiden dan langsung dihentikan di tempat, sementara dua kapal lainnya membatalkan pelayaran dan balik arah," kata pihak Angkatan Laut IRGC. Pihaknya berikrar bahwa "tidak satu tetes pun minyak, gas, atau pupuk kimia yang akan melintasi Selat Hormuz tanpa koordinasi dan izin."
Kesepakatan Dibatalkan
Teheran pada hari Sabtu mengumumkan tidak akan lagi mematuhi ketentuan kesepakatan damai sementara, setelah melancarkan serangan masif terhadap sekutu-sekutu Washington di Timur Tengah sebagai bentuk balasan atas gempuran AS.
Selain meningkatkan intensitas pemboman ke wilayah Iran, AS kembali memblokade pelabuhan-pelabuhan negara tersebut dan telah mencabut pelonggaran sanksi atas ekspor minyaknya.
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, memperingatkan akan adanya "pelajaran yang tidak terlupakan" bagi AS. Dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu, ia menegaskan bahwa pelanggaran AS terhadap memorandum—gencatan senjata 60 hari saat AS dan Iran bernegosiasi untuk membuka kembali Selat Hormuz dan membatasi program nuklir Iran—"sekali lagi membuktikan kepada semua orang tentang betapa tidak berharga dan tidak validnya tanda tangan Presiden AS."
Khamenei belum terlihat lagi di publik sejak serangan AS menewaskan ayahnya dan melukainya secara parah pada hari-hari pertama perang meletus. Para pejabat Iran menyatakan bahwa 50 orang telah tewas dan lebih dari 500 orang luka-luka akibat serangan AS sejak 27 Juni.
Kuwait Jadi Sasaran
Serangan pada hari Minggu menambah panjang daftar serangan paling parah yang dilancarkan Iran ke Kuwait sejak konflik dimulai. Pada akhir pekan ini, Kuwait Petroleum Corporation mengonfirmasi bahwa salah satu fasilitas minyaknya mengalami "kerugian material yang signifikan," yang memicu evakuasi pekerja dan menyebabkan sejumlah korban luka. Selain itu, dua fasilitas pembangkit listrik dan penyulingan air kini dipastikan telah dihantam bom.
Maskapai Kuwait Airways menjadwal ulang sebagian besar penerbangannya, sementara Kementerian Luar Negeri setempat memperingatkan bahwa penargetan berulang terhadap instalasi vital "menyingkap pendekatan agresif sistematis yang menargetkan aset-aset sipil, serta membahayakan nyawa dan keselamatan warga sipil," yang merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional.
Menurut kantor berita Tasnim, Iran juga menargetkan radar dan pesawat militer AS di Qatar, yang merupakan salah satu mediator utama antara Washington dan Teheran.
Kendati demikian, memanasnya konflik saat ini belum mencapai tingkat keparahan seperti yang terjadi pada puncak perang di bulan Maret dan awal April lalu. Kala itu, AS dan Israel membombardir kota-kota di Iran secara masif, sementara Teheran meluncurkan ribuan drone dan rudal ke negara-negara Arab Teluk dan Israel.
Atas situasi ini, Departemen Luar Negeri AS mendesak warga negaranya untuk mempertimbangkan kembali rencana perjalanan transit maupun kunjungan ke kawasan Timur Tengah mengingat tingginya potensi "eskalasi yang tidak terduga."
(bbn)
































