Logo Bloomberg Technoz

AS-Iran Panas Lagi, Rerata Harga Minyak 2026 Diprediksi US$90

Azura Yumna Ramadani Purnama
21 July 2026 14:00

Sebuah anjungan pengeboran minyak di lokasi sumur Ngiri 3 pada proyek Tilenga, yang dioperasikan oleh TotalEnergies EP Uganda./Bloomberg-Luke Dray
Sebuah anjungan pengeboran minyak di lokasi sumur Ngiri 3 pada proyek Tilenga, yang dioperasikan oleh TotalEnergies EP Uganda./Bloomberg-Luke Dray

Bloomberg Technoz, Jakarta – Sejumlah ekonom memprediksi rerata harga minyak dunia bakal berada di sekitar US$90/barel sepanjang 2026, menyusul kembali memanasnya hubungan Amerika Serikat (AS)–Iran hingga berpotensi kembali menyebabkan Selat Hormuz terganggu.

Ekonom makro PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) Myrdal Gunarto memprediksi rata-rata minyak dunia pada 2026 di level US$91/barel, jika perang tersebut terjadi hingga akhir tahun.

“Rata-rata US$91/barel, kalau perang sampai akhir tahun,” kata Myrdal ketika dihubungi, Selasa (21/7/2026).


Dia menilai melonjaknya harga minyak dunia yang belakangan terjadi harus disikapi secara bijak oleh pemerintah. Dia juga berpendapat kebijakan moneter bakal bergerak ke arah stabilisasi yang dapat membuat biaya ekspansi bisnis menjadi lebih mahal.

Bagaimanapun, dia menilai pemerintah sudah baik dalam mengelola kebijakan yang membuat perekonomian berdaya tahan dari guncangan global, termasuk lonjakan harga minyak.