Di sisi lain, laju inflasi dilaporkan melandai ke angka 1,9% pada bulan Juni, lebih rendah dari perkiraan para analis yang memprediksi inflasi akan bertahan di level 2% seperti bulan Mei. Malaysia dinilai berhasil meredam lonjakan harga barang kebutuhan konsumen melalui kebijakan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang mampu menahan dampak dari tingginya harga minyak mentah dunia.
Mata uang ringgit terpantau melemah tipis 0,2% terhadap dolar AS setelah data ini dirilis. Laporan ini sekaligus menambah bukti baru bahwa negara-negara di Asia Tenggara mampu bertahan dari dampak konflik bersenjata di Timur Tengah. Sebelumnya, Singapura dan Vietnam juga melaporkan angka PDB kuartal kedua yang lebih kuat dari perkiraan. Kendati demikian, prospek global secara umum masih dibayangi ketidakpastian, menyusul rilis pertumbuhan ekonomi China yang tumbuh lebih lambat dari perkiraan pada kuartal lalu.
Departemen Statistik Malaysia dalam pernyataan terpisah menambahkan bahwa secara keseluruhan, ekonomi nasional tumbuh sebesar 5,6% pada paruh pertama tahun ini, naik signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 4,5%.
"Kinerja di paruh pertama ini menempatkan fondasi ekonomi kita pada posisi yang jauh lebih kokoh dari perkiraan awal kami," ungkap Julia Goh, seorang ekonom di United Overseas Bank Ltd. melalui surat elektronik. "Kami akan meninjau kembali proyeksi pertumbuhan setahun penuh kami yang berada di angka 4,5%, di mana risiko saat ini cenderung bergerak ke arah batas atas dari proyeksi kami tersebut."
Ketangguhan ekonomi Malaysia ini memicu beberapa analis untuk memproyeksikan bahwa bank sentral mungkin akan menaikkan suku bunga acuan. Pekan lalu, Bank Negara Malaysia (BNM) sendiri masih memilih untuk menahan suku bunga kebijakan semalam (overnight policy rate) di level 2,75%.
“Kombinasi antara pertumbuhan dan inflasi saat ini membenarkan langkah BNM untuk tetap menahan suku bunga pada pertemuan bulan Juli. Namun, kami tetap melihat adanya alasan kuat untuk melakukan normalisasi kebijakan,” tutur Lavanya Venkateswaran, ekonom senior di Oversea-Chinese Banking Corp. “Saya melihat probabilitas yang lebih tinggi bagi BNM untuk menormalisasi suku bunga kebijakan ke level 3% pada Januari 2027 mendatang.”
Adapun data PDB awal yang akan menyajikan analisis lebih mendalam mengenai kinerja kuartal kedua dijadwalkan rilis pada tanggal 14 Agustus mendatang.
(bbn)

































