Logo Bloomberg Technoz

Menakar Ketangguhan Ekonomi RI pada Semester I-2026

Redaksi
14 July 2026 14:44

Petugas sensus melakukan pendataan saat pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Pasar Ciputat, Tangsel, Jumat (26/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean K)
Petugas sensus melakukan pendataan saat pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Pasar Ciputat, Tangsel, Jumat (26/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean K)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Di balik ambisi pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi, mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia justru mulai demam, terbatuk-batuk, dan menunjukkan gejala kehilangan sebagian tenaga.

Sejumlah indikator ekonomi terbaru mengisyaratkan adanya perlambatan ekonomi. Pemicunya bukan cuma akibat tekanan eksternal seperti pelemahan ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik, tetapi juga ada indikasi mulai melemahnya permintaan domestik yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan.

Kontraksi Manufaktur


Sinyal pertama datang dari sektor manufaktur. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia anjlok ke level 46,9 jauh di bawah ambang batas 50 yang memisahkan fase ekspansi dan kontraksi.

Angka tersebut menunjukkan aktivitas industri sedang mengalami penyusutan, tercermin dari menurunnya produksi, pesanan baru, hingga tingkat utilisasi kapasitas pabrik. Pelemahan ini mengindikasikan bahwa permintaan terhadap produk manufaktur, baik dari pasar domestik maupun ekspor, tidak lagi sekuat beberapa bulan sebelumnya.

Sumber: S&P Global. Diolah: Dimas Jarot Bayu. Infografis: Bloomberg Businessweek Indonesia.