Para ekonom mendesak pemerintah, pelaku industri, hingga institusi terkait segera membangun insentif, regulasi, dan kelembagaan yang mampu memastikan pengembangan AI tetap melengkapi peran manusia serta memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Surat terbuka tersebut hanya terdiri dari empat kalimat, namun menekankan pentingnya tindakan segera di tengah pesatnya perkembangan teknologi AI generatif yang mulai diadopsi di berbagai sektor industri.
Salah satu penandatangan, ilmuwan komputer sekaligus pelopor AI Yoshua Bengio, mengatakan arah perkembangan teknologi saat ini membuat transformasi ekonomi akibat AI menjadi sangat mungkin terjadi.
"AI sangat mungkin mengubah perekonomian kita secara drastis," kata Bengio dalam pernyataan terpisah.
Profesor Universitas Montreal itu menilai pengembangan AI tidak boleh sepenuhnya diserahkan pada mekanisme pasar. Menurutnya, diperlukan keputusan kolektif dan demokratis agar manfaat teknologi tersebut dapat dirasakan masyarakat secara lebih merata.
Peringatan tersebut muncul ketika adopsi AI generatif terus meningkat di berbagai sektor, mulai dari layanan pelanggan, pengembangan perangkat lunak, manufaktur, hingga pekerjaan administratif. Di sisi lain, sejumlah perusahaan teknologi juga semakin agresif mengembangkan model AI yang diklaim mampu menggantikan sebagian tugas manusia.
Perdebatan mengenai dampak AI terhadap pasar tenaga kerja pun semakin menguat. Sejumlah studi sebelumnya memperkirakan jutaan pekerjaan berpotensi terdampak otomatisasi, meski pada saat yang sama AI juga diperkirakan akan menciptakan jenis pekerjaan baru yang membutuhkan keterampilan berbeda.
Bagi para penandatangan surat terbuka tersebut, tantangan terbesar bukan hanya mempercepat inovasi AI, tetapi memastikan transformasi teknologi berlangsung secara inklusif tanpa meninggalkan sebagian besar tenaga kerja.
(fik/wep)






























