Logo Bloomberg Technoz

Sejumlah saham turut mencatat kenaikan tertinggi di jajaran top gainers. Di antaranya adalah saham PT First Media Tbk (KBLV) yang melejit 27%, saham PT Citatah Tbk (CTTH) 25,6% dan saham PT Aracord Nusantara Group Tbk (RONY) yang melesat 24,7% serta saham IPO PT Asia Sejahtera Mina Tbk (AGAR) juga menguat 24,6%.

Sedang sejumlah saham yang melemah dan menjadi top losers di antaranya saham PT Bekasi Asri Pemula Tbk (BAPA) yang amblas 14,7%, saham PT Singaraja Putra Tbk (SINI) jatuh 9,81%, dan saham PT Remala Abadi Tbk (DATA) terpeleset 9,8%.

IHSG menjadi sedikit dari sekian Bursa Asia yang justru memerah sepanjang hari, hanya Hang Seng (Hong Kong), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), KLCI (Malaysia), PSEI (Filipina), dan SETI (Thailand), yang berhasil berada di zona hijau dengan masing–masing menguat 1,33%, 1,24%, 0,49%, 0,36%, dan 0,31%.

Sementara Bursa Saham Asia lainnya masih ada di zona merah, KOSPI (Korea Selatan), KOSDAQ (Korea Selatan), NIKKEI 225 (Jepang), Shanghai Composite (China), CSI 300 (China), Shenzhen Comp. (China), TOPIX (Jepang), Straits Times (Singapura), SENSEX (India), dan TW Weighted Index (Taiwan), yang terpangkas masing–masing 6,37%, 4,53%, 2,79%, 1,85%, 1,85%, 1,51%, 1,45%, 0,37%, 0,02%, dan 0,01%.

Sejumlah Bursa Asia dan IHSG mengikuti apa yang terjadi di Wall Street. Dini hari tadi Bursa Saham New York kompak melaju di zona hijau. Nasdaq Composite melesat 0,62%, indeks S&P 500 menguat 0,38%, dan, Dow Jones Industrial Average (DJIA) menghijau dengan kenaikan 0,29%.

Salah satu sentimen yang menyuasanai penguatan datang dari rilis data Inflasi Harga Produsen Amerika Serikat (AS) yang tercatat lebih rendah dari estimasi pasar pada Juni. Data ini mengindikasikan tekanan harga di tingkat hulu berhasil mereda, sekaligus menurunkan kecemasan pasar atas kenaikan suku bunga.

Berdasarkan data dari Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS), melansir Bloomberg News, Indeks Harga Produsen (IHP) yang mengecualikan komponen makanan dan energi meningkat 4,7% year–on–year/yoy. Lebih rendah dari estimasi rata-rata dalam survei Bloomberg. Secara keseluruhan, perlambatan inflasi IHP ini sebagian besar didorong oleh turunnya harga bensin yang mencapai 12%.

Laporan tersebut menunjukkan adanya pendinginan harga yang merata di beberapa kategori utama, yang dalam beberapa bulan sempat melejit akibat dampak perang.

Situasi ini kemungkinan besar memberikan ruang lebih lega bagi Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) untuk menunda kenaikan suku bunga acuan—terlebih setelah laporan terpisah pada hari Selasa juga menunjukkan Inflasi Harga Konsumen yang terjaga pada Juni.

Bloomberg Economics turut menyebut, Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) secara keseluruhan mencatat level terendah pada Juni sejak April tahun lalu, sementara inflasi inti core PPI juga memperlihatkan perlambatan.

“Sehingga berpotensi membuat Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuannya pada beberapa pertemuan mendatang,” mengutip paparan Bloomberg Economics, Kamis (16/7/2026).

Terlebih lagi, penguatan nilai tukar rupiah yang berhasil ditutup menguat 0,45% di posisi Rp17.985/US$ di pasar spot, berdasarkan data Bloomberg, jadi katalis tambahan yang menopang IHSG, di tengah menyusutnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan The Fed.

(fad)

No more pages