Reaksi pasar terhadap data tersebut relatif terbatas. Yuan offshore masih mempertahankan penguatan 0,1% pada perdagangan pagi, sementara imbal hasil obligasi pemerintah China tenor 10 tahun stabil di level 1,73%.
Data terbaru juga menunjukkan investasi aset tetap (fixed-asset investment/FAI) turun 5,7% pada semester pertama dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan tersebut lebih dalam dari perkiraan analis dan memburuk dibandingkan kontraksi 4,1% yang tercatat pada lima bulan pertama tahun ini.
Di sisi lain, penjualan ritel secara tak terduga tumbuh 1% setelah turun 0,6% pada Mei. Produksi industri melampaui perkiraan dengan kenaikan 5,3%, sementara tingkat pengangguran perkotaan berdasarkan survei turun menjadi 5% dari sebelumnya 5,1% pada Mei.
Penurunan penjualan sejumlah barang seperti peralatan rumah tangga juga mulai mereda selama festival belanja daring pertengahan tahun "618", menurut sejumlah ekonom di China.
Kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi terbesar kedua di dunia itu semakin meningkat sejak April, ketika pertumbuhan mulai melemah dan menjadi semakin tidak seimbang. Meskipun lonjakan harga energi akibat perang di Iran membantu mengangkat China dari tekanan deflasi yang telah berlangsung bertahun-tahun, keyakinan konsumen dan pelaku usaha masih lemah.
Sementara itu, ekspor China melonjak ke rekor tertinggi dan produksi manufaktur tetap kuat, terutama berkat pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) secara global. Namun, ketegangan perdagangan di berbagai negara masih membayangi prospek ekonomi yang kini semakin bergantung pada penjualan ke luar negeri. Risiko yang muncul adalah manfaat dari ledakan tersebut hanya terkonsentrasi di beberapa sektor, seperti manufaktur elektronik, tanpa mengalir ke perekonomian secara lebih luas.
Penurunan tajam investasi aset tetap selama setahun terakhir juga memicu kekhawatiran di China.
David Li Daokui, ekonom terkemuka sekaligus penasihat pemerintah, mengatakan dalam sebuah pidato awal bulan ini bahwa sebelum pelemahan terbaru, indikator tersebut hanya pernah mengalami kontraksi pada 1961 dan 1967. Menurutnya, besarnya penurunan yang terjadi saat ini belum pernah terjadi sebelumnya.
"Kontraksi investasi inilah yang menjadi penyebab lemahnya PDB pada kuartal kedua," ujar Raymond Yeung, Kepala Ekonom Greater China di Australia & New Zealand Banking Group Ltd. "China masih memerlukan kebijakan yang mendukung pertumbuhan pada paruh kedua tahun ini, idealnya sebelum akhir kuartal ketiga. Pertemuan Politbiro pada Juli kini menjadi agenda yang paling kami cermati."
(bbn)

































