“Fasilitas ini menjadi motor utama yang menyumbang surplus solar nasional saat ini,” ungkapnya.
Kedua, RU VI Balongan. Kilang ini sedang menjalani tahapan revitalisasi unit kerosene hydrotreating (Kero-HTU) dengan kapasitas 10.000 barel per hari (bph).
Yayan menjelaskan, usai revitalisasi, unit hidrogenasi minyak tanah ini diproyeksikan mampu menghasilkan 9.500 bpd avtur murni.
Ketiga, RU IV Cilacap. Yayan menyebutkan pada Februari 2026, Pertamina baru saja melakukan groundbreaking fasilitas standalone green refinery (SGR) berkapasitas 6.000 bph atau sekitar 300.000 kl/tahun yang dikhususkan untuk memproduksi avtur nabati atau sustainable aviation fuel (SAF).
"Teknologi yang dimiliki Pertamina memiliki kapasitas yang sangat mumpuni untuk mengeksekusi ini, didukung oleh beberapa fasilitas utama," ujar Yayan.
Kebutuhan Dana
Ihwal kebutuhan dana dalam proyek konversi surplus solar menjadi avtur ini, Yayan menjelaskan, jika Pertamina sekadar mengubah rasio distilasi di kilang eksisting, biayanya cenderung bersifat operasional tanpa memerlukan modal belanja raksasa.
Namun, tantangan baru muncul seiring dengan target Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, yang menginginkan pembangunan unit atau pabrik avtur baru pada akhir 2026.
“Jika proyek ini dimasukkan ke dalam payung megaproyek RDMP atau pembangunan kilang utuh secara menyeluruh, seperti di [kilang] Balikpapan atau Tuban, nilai total investasinya dapat menyentuh angka US$6—US$12 miliar atau sekitar Rp90—Rp180 triliun,” jelas dia.
Sebelumnya, Bahlil mengungkapkan pemerintah berencana mendirikan pabrik avtur di dalam negeri yang ditarget mulai pembangunan pada akhir 2026.
Langkah tersebut menjadi strategi pemerintah untuk menghentikan impor bahan bakar pesawat, setelah tidak lagi mengimpor solar seiring implementasi biodiesel B50.
"Tahap berikutnya adalah kita akan mendorong untuk membangun [kilang] avtur, karena bahan baku avtur itu hampir sama dengan solar juga," ujar Bahlil usai peluncuran B50 di Rest Area KM 57 Tol Jakarta—Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026).
Bahlil menambahkan Kementerian ESDM bersama Pertamina saat ini tengah menyusun peta jalan (roadmap) pembangunan pabrik avtur, yang diharapkan dapat dimulai akhir tahun ini.
Dia mengelaborasi rencana pembangunan pabrik avtur didorong oleh proyeksi surplus solar yang mencapai 3—4 juta kl.
Surplus tersebut berasal dari tambahan produksi kilang di Balikpapan, Kalimantan Timur yang mencapai 5,6 juta kl setelah optimalisasi kapasitas pengolahan.
"Memang di dalam hitungan kita dengan Pertamina, ke depan mungkin akan terjadi surplus diperkirakan antara 3—4 juta kL," ucap Bahlil.
Bahlil menegaskan tujuan utama pembangunan pabrik avtur adalah agar Indonesia tidak lagi bergantung pada impor bahan bakar pesawat.
"Kita akan mencoba untuk juga tidak lagi melakukan impor avtur," ucap dia.
Sebagai informasi, pada awal 2026, Bahlil juga telah menargetkan Indonesia bakal terbebas dari impor avtur atau bahan bakar pesawat terbang mulai 2027.
Bahlil menyatakan, dengan beroperasinya proyek RDMP di Kilang Balikpapan, kapasitas produksi olahan minyak Indonesia akan meningkat, termasuk untuk produksi avtur.
"Termasuk avtur Bapak Presiden. Jadi avtur juga 2027 insyallah tidak lagi kita melakukan impor. Ke depan kita akan dorong atas perintah Bapak Presiden kita hanya mengimpor crude-nya saja," kata Bahlil dalam acara peresmian RDMP Balikpapan, di Kalimantan Timur, medio Januari.
Dalam kesempatan itu, Bahlil turut menyatakan proyek RDMP Balikpapan akan menambahkan produksi bensin Tanah Air sekitar 5,8 juta kl.
Dengan begitu, Bahlil mengklaim produksi bensin Tanah Air akan mendekati level 20 juta kl dari sebelumnya sekitar 14 juta kl.
Apabila dibandingkan dengan konsumsi bensin dalam negeri yakni sekitar 40 juta kl, maka sisa impor bensin Indonesia masih terpaut sekitar 20 juta kl.
“Sementara untuk solar, tahun ini alhamdulillah atas perintah Bapak Presiden, maka mulai yang sekarang kita bicara ini, Pak. Tidak ada lagi impor solar untuk insyallah ke depan. Karena kebutuhan solar kita totalnya 38 juta, sekarang B40 dan B60 [B50],” ujar dia.
Sekadar informasi, proyek revitalisasi Kilang Balikpapan itu bakal mengerek kapasitas pengolahan saat ini di level 260.000 bph menjadi 360.000 bph.
Selain itu, RDMP Balikpapan juga meningkatkan kapasitas produksi LPG ke level 336.000 ton per tahun.
Adapun, fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex menjadi elemen kunci dalam Proyek RDMP Balikpapan.
Sebagai unit pengolahan utama, RFCC Complex dirancang untuk mengoptimalkan pengolahan residu minyak menjadi produk bahan bakar dan petrokimia bernilai tinggi.
Kehadiran fasilitas ini membuat Kilang Balikpapan mampu memproduksi bahan bakar berkualitas tinggi setara standar Euro 5, yang lebih bersih dan rendah emisi.
Selain itu, Kilang Balikpapan juga dapat memproduksi produk petrokimia propylene dan sulfur.
(smr/wdh)































