Logo Bloomberg Technoz

Di tengah kesaksian tersebut, Warsh menyiratkan nada hawkish meski tidak diungkap secara eksplisit. Warsh menegaskan bahwa salah satu opsi untuk mengendalikan inflasi adalah melalui suku bunga. 

Pasar menilai Warsh belum cukup kuat untuk mengubah ekspektasi kebijakan dalam waktu dekat. Setelah data inflasi dirilis, pelaku pasar memang memangkas peluang kenaikan FFR pada pertemuan Juli dan kembali memperkirakan siklus pengetatan mmoneter akan berlangsung lebih berhati-hati. 

Ekspektasi tersebut membuat yield obligasi pemerintah AS cenderung stabil, dan indeks dolar AS kehilangan sebagian penguatannya, berada di level 100,88. 

Bagi rupiah, kondisi ini dapat jadi sentimen positif. Tekanan dolar AS berkurang, berpotensi membawa mata uang negara berkembang kembali menguat, termasuk rupiah. Namun, ruang penguatan rupiah bukan tanpa batas. Pasar masih akan mencermati sikap Warsh yang belum sepenuhnya menutup peluang pengetatan kebijakan jika inflasi kembali naik. 

Penguatan mata uang kawasan termasuk rupiah ke depan, tak cuma ditentukan oleh meredanya ekspektasi kenaikan FFR, tapi juga konsistensi penurunan inflasi AS. Jika tekanan harga kembali naik lantaran harga energi melonjak atau ada gangguan rantai pasok global seperti sebelumnya, maka peluang pelonggaran moneter menjadi tertunda. Skenario ini berpotensi mendorong dolar AS kembali kuat dan menekan mata uang Asia, termasuk rupiah. 

Di dalam negeri, ruang penguatan rupiah juga akan ditentukan oleh ketahanan fundamental ekonomi domestik, mengingat sejumlah indikator masih menunjukkan perlambatan sehingga belum cukup kuat untuk menopang akselerasi pertumbuhan ekonomi. 

(riset/aji)

No more pages