“Departemen Keuangan menutup infrastruktur keuangan yang memungkinkan rezim tersebut terus mengancam keamanan nasional AS dan pelayaran global,” tegas Bessent dalam sebuah pernyataan resmi.
Gedung Putih kembali menjalankan strategi tekanan militer dan ekonomi terhadap Iran, setelah sebelumnya sempat memulai negosiasi di bawah kesepakatan damai sementara yang ditandatangani oleh Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada 17 Juni lalu. Namun, ketegangan atas kendali Selat Hormuz—yang merupakan jalur air krusial bagi pasokan energi global—membuat pembicaraan tersebut terhenti, dan memicu AS serta Iran untuk saling serang kembali.
Sanksi baru ini menandai perubahan besar dari rencana sebelumnya untuk mengintegrasikan kembali Iran ke dalam perekonomian global melalui serangkaian izin khusus. Izin-izin tersebut awalnya bergantung pada komitmen Iran dalam berbagai isu. Setelah penandatanganan nota kesepahaman sebelumnya, Bessent sempat menyatakan bahwa Iran akan mulai menggunakan dolar AS dalam penagihan penjualan minyaknya, sebuah langkah yang diharapkan dapat memperkuat peran sentral mata uang tersebut dalam sistem keuangan global.
Kendati demikian, AS akhirnya mencabut dispensasi yang mengizinkan penjualan baru minyak Iran pada 8 Juli, menyusul serangkaian serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz yang dituduhkan kepada Teheran. Dua hari kemudian, pada 10 Juli, AS resmi menjatuhkan sanksi baru, termasuk menyasar jaringan pendanaan Pemimpin Agung Mojtaba Khamenei.
(bbn)



























