Logo Bloomberg Technoz

Harga emas berhasil bangkit usai turun dua hari beruntun. Selama dua hari tersebut, harga terjungkal hampir 3%.

Selain unsur technical rebound, kenaikan harga emas juga ditopang oleh rilis data ekonomi teranyar di AS. US Bureau of Labor Statistics mengumumkan, laju inflasi di Negeri Adikuasa pada Juni ada di 3,5% secara tahunan. Cukup jauh melambat ketimbang bulan sebelumnya yakni 4,2% dan berada di bawah ekspektasi pasar dengan proyeksi 3,8%.

Sementara laju inflasi inti secara tahunan pada Juni adalah 2,6%. Lebih rendah dibandingkan Mei yang 2,9%, juga di bawah proyeksi pasar di 2,8%.

Secara bulanan, yang terjadi adalah deflasi sebesar 0,4% pada Juni. Ini adalah yang terendah sejak April 2020.

Data ini membuat pasar mulai menimbang bahwa bank sentral Federal Reserve bisa saja tidak perlu menaikkan suku bunga acuan.

“Ini membuat Warsh (Kevin Warsh, Gubernur The Fed) berada di kondisi terbaik. Di satu sisi, Warsh bisa tetap bernada hawkish karena inflasi masih di atas target 2%, tetapi di sisi lain tidak perlu menaikkan suku bunga. Kami rasa inflasi yang melunak membuat kemungkinan kenaikan suku bunga acuan bulan ini terhapus, dan mendukung pandangan kami bahwa The Fed bisa mempertahankan suku bunga sampai akhir tahun,” papar Ekonom Andrew Sacher dan Troy Durie dari Bloomberg Economics dalam catatannya.

Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi, demikian pula sebaliknya.

(aji)

No more pages