Logo Bloomberg Technoz

Bagi masyarakat awam, tak sulit memahami definisi nilai tukar rupiah. Dalam gambaran besar, rupiah menguat jika pasokan dolar AS ke Indonesia lebih besar dibanding permintaan dolar AS. Sebaliknya, rupiah melemah kalau permintaan dolar AS lebih besar daripada pasokannya.

Permintaan dolar biasanya datang dari impor, pembayaran utang luar negeri, kebutuhan dividen, pembelian aset luar negeri, dan orang yang mencari perlindungan ketika pasar sedang panik.

Sementara itu, Pasokan dolar datang dari ekspor, investasi asing langsung, turis asing, pinjaman luar negeri, penerbitan surat utang valuta asing, serta investor asing yang membeli Surat Berharga Negara (SBN), saham, atau instrumen Bank Indonesia (BI).

"Jadi, rupiah bukan hanya soal BI, tetapi hasil tarik-menarik antara perdagangan, arus modal, harga komoditas, suku bunga global, kepercayaan pasar, dan kebijakan domestik," ujar Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede, dikutip Senin (13/7/2026).

Faktor Penggerak Rupiah

Josua menjelaskan terdapat sejumlah faktor yang menggerakkan nilai tukar rupiah. Berikut keterangannya:

1. Faktor pertama adalah dolar AS. Ketika dolar AS menguat, hampir semua mata uang negara berkembang ikut tertekan, termasuk rupiah. Saat pasar global cemas karena ketegangan Timur Tengah, harga minyak naik, atau suku bunga Amerika Serikat diperkirakan bertahan tinggi, investor cenderung memilih dolar AS. Dolar AS kembali didukung oleh sikap bank sentral AS yang lebih tegas terhadap inflasi, sementara mata uang Asia ikut tertekan karena pasar memperkirakan suku bunga AS belum akan turun cepat.

2. Selisih imbal hasil antara aset rupiah dan aset dolar AS. Investor asing akan membeli SBN atau Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) kalau imbal hasilnya dianggap cukup menarik dibanding risiko rupiah. Karena itu, ketika imbal hasil obligasi AS tinggi, Indonesia harus menawarkan imbal hasil rupiah yang lebih menarik agar dana asing tetap masuk. BI sudah menaikkan BI-Rate menjadi 5,75% pada Juni 2026 untuk memperkuat stabilisasi rupiah dan menjaga inflasi tetap dalam sasaran. Namun, kebijakan ini ada biayanya yakni imbal hasil SBN naik, biaya dana perbankan berisiko meningkat, dan sektor riil bisa menghadapi kredit yang lebih mahal.

3. Arus modal asing. Rupiah biasanya lebih kuat ketika investor asing membeli SBN, saham, atau SRBI, dan melemah ketika mereka keluar. Namun kualitas arus modal juga penting. Data arus modal menunjukkan pada 2026 hingga Juni, investor asing masih keluar dari saham sebesar US$4,19 miliar, sementara masuk ke SRBI sebesar US$9,03 miliar dan SBN hanya US$0,27 miliar. Ini berarti rupiah banyak ditopang oleh dana jangka pendek di instrumen BI, bukan sepenuhnya oleh kepercayaan jangka panjang ke pasar saham atau SBN.

4. Neraca perdagangan. Kalau ekspor lebih besar dari impor, pasokan dolar biasanya meningkat dan rupiah lebih terbantu. Sebaliknya, kalau impor tumbuh lebih cepat daripada ekspor, kebutuhan dolar naik dan rupiah tertekan. Pada Mei 2026, Indonesia mencatat defisit perdagangan US$1,16 miliar, defisit pertama dalam lebih dari enam tahun, karena impor naik 22,16% sementara ekspor turun 5,73%. Ini menjadi sinyal penting bahwa tekanan rupiah tidak hanya berasal dari pasar keuangan, tetapi juga dari kebutuhan dolar untuk membayar impor.

5. Harga komoditas, terutama minyak, batu bara, sawit, dan nikel. Indonesia diuntungkan ketika harga ekspor seperti batu bara, sawit, dan nikel naik karena penerimaan dolar bertambah. Tetapi Indonesia juga dirugikan ketika harga minyak naik karena impor energi dan subsidi energi ikut naik. Mata uang Asia melemah ketika harga minyak naik akibat ketegangan Timur Tengah, sementara sebagian besar negara Asia adalah pengimpor minyak. Untuk Indonesia, minyak yang mahal bisa menekan rupiah melalui dua jalur sekaligus: impor migas naik dan risiko fiskal membesar.

6. Inflasi. Pelemahan rupiah membuat barang impor, bahan baku, energi, obat-obatan, elektronik, dan komponen industri menjadi lebih mahal. Pada Juni 2026, inflasi Indonesia naik menjadi 3,34% secara tahunan, terutama karena tekanan biaya dari transportasi, BBM nonsubsidi, dan bahan baku impor akibat pelemahan rupiah. Jika pelemahan rupiah berlanjut, harga barang bisa naik lagi, daya beli turun, dan BI terdorong mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

7. Kepercayaan terhadap kebijakan domestik. Investor tidak hanya melihat angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga arah kebijakan fiskal, transparansi pasar, kepastian aturan, dan konsistensi pemerintah. Karena itu, isu klasifikasi pasar oleh MSCI dan S&P Dow Jones menjadi penting. S&P Dow Jones memasukkan Indonesia dalam daftar pengawasan untuk kemungkinan penurunan status jika masalah transparansi kepemilikan saham dan likuiditas pasar tidak membaik; setelah kabar itu, rupiah sempat menyentuh sekitar Rp18.011 dan imbal hasil SBN 10 tahun naik ke 7,29%.

8. Cadangan devisa dan intervensi BI. Cadangan devisa adalah bantalan untuk menenangkan pasar ketika rupiah melemah terlalu cepat. Cadangan devisa Indonesia naik menjadi sekitar US$145,9 miliar pada akhir Juni 2026 dari US$144,9 miliar pada Mei, setara 5,5 bulan impor, masih jauh di atas standar aman internasional sekitar 3 bulan impor. Namun, cadangan devisa tetap diperkirakan berada di bawah tekanan karena BI masih perlu melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah dan pemerintah masih memiliki kewajiban pembayaran utang luar negeri.

9. Kondisi fiskal. APBN yang sehat dapat membantu rupiah karena pasar merasa pemerintah mampu mengelola defisit, subsidi, dan utang. PIER mencatat defisit APBN semester I 2026 masih terkendali di 0,76% PDB, lebih rendah dari periode sama tahun sebelumnya, didukung pertumbuhan penerimaan negara yang lebih kuat. Namun risiko tetap ada karena ketegangan Timur Tengah dapat melemahkan rupiah, menaikkan harga minyak, dan menekan asumsi APBN.

Josua mengibaratkan rupiah seperti tekanan air dalam pipa. Pasokan dolar adalah air yang masuk, sedangkan permintaan dolar adalah air yang keluar. Kalau ekspor, investasi, turis, dan arus modal masuk deras, rupiah menguat. Sebaliknya, kalau impor, pembayaran utang, arus modal keluar, dan kepanikan pasar lebih deras, rupiah melemah.

Menurut dia, BI bisa membuka atau menutup katup melalui suku bunga, intervensi, dan SRBI, tetapi bank sentral tidak bisa sendirian mengubah arah air jika pipa dasarnya bocor dari defisit perdagangan, impor energi, atau kepercayaan investor yang melemah.

(lav)

No more pages