Logo Bloomberg Technoz

Kenaikan harga minyak langsung mengubah persepsi pasar terhadap arah inflasi global. Setelah sempat optimistis tekanan inflasi akan terus mereda, investor kini kembali mengantisipasi kenaikan biaya energi yang berpotensi menghambat proses disinflasi. Dampaknya, ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama (higher for longer) kembali menguat.

Sentimen tersebut tercermin dari kenaikan yield US Treasury, terutama tenor dua tahun yang naik ke level 4,23%, tertinggi sejak Februari 2025. Kenaikan yield tersebut meningkatkan daya tarik aset-aset berdenominasi dolar AS sekaligus mendorong arus dana keluar dari pasar negara berkembang.

Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi tantangan dari dua sisi. Di satu sisi, dolar AS yang menguat menekan nilai tukar rupiah. Di sisi lain, lonjakan harga minyak berpotensi memperbesar kebutuhan devisa untuk impor energi mengingat Indonesia masih berstatus sebagai net importir minyak. Terlebih, saat ini Indonesia juga masih terbebani oleh twin deficit yang terjadi pada neraca pembayaran dan fiskal. 

Secara teknikal, di tengah tekanan yang saling berkelindan, rupiah diperkirakan masih bergerak dengan bias melemah, menuju target pelemahan Rp18.100/US$ sampai dengan menembus Rp18.150/US$. 

(dsp)

No more pages