AS-Iran Kembali Memanas, RI Perlu Cermat Kelola Impor Migas
Azura Yumna Ramadani Purnama
13 July 2026 10:20

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ekonom Center of Reform on Economics (Core) meminta pemerintah untuk cermat dalam mengelola impor komoditas minyak dan gas (migas), sebab hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas hingga menyebabkan Selat Hormuz kembali sepi.
Ekonom Core Yusuf Rendy Manilet menegaskan Indonesia merupakan importir neto minyak mentah dan sebagian besar impor gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG) Indonesia berasal dari Timur Tengah.
Oleh sebab itu, impor dua komoditas tersebut akan sangat bergantung pada kelancaran pelayaran di Selat Hormuz. Yusuf menilai jika gangguan berlangsung lebih lama, maka dampaknya akan terasa melalui kenaikan harga dan potensi keterbatasan pasokan.
“Bagi Indonesia, yang perlu lebih diwaspadai justru bukan hanya harga minyak mentah, tetapi juga pasokan produk olahan dan LPG. Indonesia merupakan importir neto minyak dan sebagian besar impor LPG berasal dari Timur Tengah sehingga sangat bergantung pada kelancaran pelayaran melalui Selat Hormuz,” kata Yusuf ketika dihubungi, Senin (13/7/2026).
Bagi perekonomian, kata Yusuf, terganggunya jalur perdagangan migas global tersebut bakal memberikan tekanan terhadap anggaran negara, sebab harga minyak bergerak di atas asumi Indonesia Crude Price (ICP).




























