Logo Bloomberg Technoz

Di dalam negeri, tantangan dan sentimen yang dihadapi rupiah juga belum sepenuhnya mereda. Sejumlah indikator ekonomi bahkan menunjukkan bahwa permintaan domestik masih belum pulih.

Penjualan ritel terkontraksi, optimisme konsumen memudar, sementara aktivitas manufaktur berada di fase kontraksi. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa mesin pertumbuhan ekonomi masih bertumpu pada konsumsi yang saat ini sedang melambat dan belum diimbangi oleh lonjakan investasi sektor swasta maupun adanya pertumbuhan ekspor.

Belum lagi, tekanan yang menimpa aset keuangan domestik masih membuat pelaku pasar khawatir. Peringatan dari MSCI dan S&P Dow Jones Indices terkait potensi perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia masih menjadi faktor yang membayangi aliran modal asing.

Meski dampaknya belum terjadi saat ini, risiko keluarnya dana asing apabila isu tersebut tidak segera direspons tetap menjadi perhatian investor. Sentimen ini turut menjelaskan mengapa penguatan rupiah cenderung tertahan meski kondisi eksternal relatif lebih kondusif.

Sebagai catatan, sore ini rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) juga cenderung stagnan dengan perubahan tipis 0,02% di level Rp18.116/US$ pada pukul 15.15 WIB. Dengan begitu, penguatan yang terjadi pada sore ini bisa dikatakan sebagai jeda dari tekanan daripada disebut titik balik tren.

UBS dalam catatannya bahkan memperkirakan pelemahan rupiah yang terjadi secara bertahap akan terus berlanjut, dengan pergerakan menuju rentang Rp18.500-19.000/US$ pada semester kedua tahun ini.

(dsp/aji)

No more pages