Logo Bloomberg Technoz

Ekonom Soroti Outlook APBN Semester II: Struktur Fiskal RI Lemah

Mis Fransiska Dewi
10 July 2026 16:40

Cover Realisasi APBN sampai dengan 28 Februari 2026 (Bloomberg Technoz/Asfahan)
Cover Realisasi APBN sampai dengan 28 Februari 2026 (Bloomberg Technoz/Asfahan)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ekonom berpandangan outlook anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) semester II-2026 mencerminkan struktur fiskal yang rapuh lantaran basis penerimaan pajak menyempit sedangkan penerimaan terlalu bergantung pada komoditas serta belanja yang belum memiliki mekanisme penyesuaian yang cukup kuat ketika terjadi guncangan.

Menteri Keuangan Purbaya sebelumnya memaparkan defisit APBN 2026 bakal melebar menjadi Rp734,3 triliun atau setara 2,85% terhadap produk domestik bruto (PDB).  Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan target defisit dalam APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68% PDB. Defisit diklaim akan membaik seiring menurunnya harga minyak dunia. 

Kenaikan defisit tahun ini terjadi seiring meningkatnya proyeksi belanja negara yang melampaui pagu anggaran. Dalam outlook APBN 2026 yang dipaparkan, belanja negara diperkirakan mencapai Rp3.942,4 triliun atau 102,6% dari pagu APBN. Belanja yang bengkak juga termasuk anggaran pembayaran subsidi dan kompensasi pemerintah sebesar Rp132 triliun. 


Sementara pendapatan negara diproyeksikan sebesar Rp3.208,1 triliun atau 101,7% dari target APBN. Dengan kondisi tersebut, kebutuhan pembiayaan anggaran juga diperkirakan meningkat menjadi Rp734,3 triliun untuk menutup defisit yang melebar. 

Di sisi pendapatan, pemerintah memperkirakan realisasi pendapatan negara mencapai Rp3.208,1 triliun atau 101,7% dari target APBN.