Minat Investor ke SVBI dan SUVBI Memudar, SRBI Jadi Tumpuan BI
Redaksi
10 July 2026 14:28

Bloomberg Technoz, Jakarta - Di tengah meningkatnya volatilitas rupiah, Bank Indonesia (BI) masih membutuhkan instrumen Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI), sebagai salah satu sumber pembiayaan devisa sekaligus penyangga stabilitas rupiah. Akan tetapi, belakangan ini efektivitas instrumen tersebut mulai menghadapi tantangan.
Data menunjukkan bahwa outstanding SVBI dan SUVBI telah menyusut dari sekitar US$5,6 miliar pada Oktober 2025, menjadi hanya US$2,8 miliar pada Mei tahun ini. Penurunan hampir 50% ini mencerminkan berkurangnya minat investor asing terhadap instrumen valas BI seiring menyempitnya imbal hasil dengan instrumen dolar AS lain, terutama deposito maupun Treasury Bills Amerika Serikat (AS) yang menawarkan yield relatif tinggi, dengan risiko yang tentu saja lebih rendah.
Padahal, sejak diluncurkan pada November 2023, SVBI dan SUVBI diposisikan sebagai pelengkap dari instrumen operasi moneter lainnya, yakni Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Berbeda dengan SRBI, SUVBI dan SVBI ditawarkan dalam denominasi dolar AS.
Instrumen ini dirancang untuk menarik dana investor institusi global, demi memperkuat cadangan devisa, sekaligus memberi ruang lebih besar untuk BI dalam menjaga stabilitas rupiah lewat intervensi di pasar valuta asing (valas).
Lebih lanjut, data lelang terbaru dari BI memperlihatkan permintaan terhadap SUVBI dan SVBI belum sepenuhnya pulih. Pada lelang 8 Juli, total dana yang berhasil dihimpun memang naik 37,5% menjadi US$62 juta, dari lelang sebelumnya pada 1 Juli sebesar US$45,1 juta.































